Urgensi Etika dan Niat Bagi Penuntut Ilmu - Andalusia Islamic Center

Urgensi Etika dan Niat Bagi Penuntut Ilmu

Urgensi Etika dan Niat Bagi Penuntut Ilmu

Penuntut ilmu memiliki orientasi yang sama, yakni sama-sama mencari ilmu dan mencari ridha dari Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Mencari ridha Allah Subhaanahu wa Ta'alaa untuk mendapatkan hal yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhiratnya, serta bisa di aplikasikan di masa depannya nanti.

Hanya saja tak sedikit hal yang perlu di luruskan dan ditata ulang, sehingga apa yang diharapkan dan diinginkan bisa tercapai dengan baik. Hal yang paling mendasar bagi para penuntut ilmu ini berkaitan dengan etika dan tatakrama. Kelurusan etika dan tatakrama sangatlah urgent dalam bidang pendidikan. Hal ini didasarkan bahwasanya belajar adalah pentransferan ilmu dari sang pemegang ilmu kepada para pendengarnya. Jika pentransferan ilmu ini tidak berjalan dengan baik dan tak sesuai dengan etika maka akan menghasilkan ilmu yang tinggi namun tidak terkandung barakah di dalamnya. Mengenai hal ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda : “Barang siapa yang bertambah ilmunya, namun tidak bertambah hidayahnya, (kebarokahan ilmunya) maka pada hakekatnya dia hanya bertambah jauh dari Allah Subhaanahu wa Ta'alaa”.

Tak sedikit yang tidak begitu menghiraukan dan memperhatikan etika dan tata krama dalam emnuntut ilmu. Baik dengan alasan yang tidak relevan atau tidak sesuai dengan zamannya lagi, atau alasan-alasan yang lainnya yang hanya menambah daftar seribu satu alasan bagi pelajar yang tidak mengindahkan etika moral dan nilai agama bahkan norma sosial yang sudah mengakar di masyarakat. Akibatnya, banyak kaum terpelajar saat ini yang karakteristiknya kurang ajar, bahkan sebetulnya ia tak layak untuk mendapatkan gelar “kaum terpelajar”. Oleh karenanya, penulis bermaksud untuk mengingatkan kita semua dengan beberapa pesan yang tidak boleh tidak harus di lakukan dan di realisasikan oleh para pencari ilmu, bahkan oleh orang-orang yang tingkat keilmuannya telah mencapai tingkat tinggi sekalipun. Pesan itu ialah tentang pentingnya etika. Sebagai contoh, Imam Hanafi tidak berani menselonjorkan kakinya ke sebuah arah dikarenakan arah itu adalah arah rumah guru beliau. Bahkan para pemuka agama atau ulama terdahulu tidak berani mengganggu hewan-hewan peliharaan gurunya. Selain urgensitas etika, niat atau tujuan kita dalam menuntut ilmu juga sudah semestinya dijaga dan ditata dengan benar. Penataan niat sama halnya dengan menata dan membangun pondasi awal secara baik dan benar. Kala pondasi awal telah kokoh dan kuat, maka sebuah bangunan akan aman dari kerobohan dan keambrukan. Begitupulalah proses kita dalam menuntut ilmu. Ilmu yang sesungguhnya adalah ilmu yang membawa pemiliknya semakin tambah merasa takut kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa, semakin dekat kepada Allah Subhaanahu waTa'alaa serta semakin merasa diawasi oleh Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Itulah hakikat ilmu yang sesungguhnya. Jikalau ilmu yang kita miliki bertambah seiring dengan bertambah beraninya kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa dalam melanggar perintah-Nya & melakukan larangan-Nya, maka itu pertanda bahwa hati kita sedang jauh dari Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Bertambah jauh dari Allah Subhaanahu wa Ta'alaa akan menjadikan hati kita tertutup. Dan ketertutupan hati inilah yang akan menambah kita tidak peduli dan masa bodoh dengan semua aturan dan syariat-syariat Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Dalam salah satu haditsnya ini Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mewanti-wanti mengenai niat dan tujuan atau dalam mencari ilmu dengan sabdanya “Barangsiapa yang menuntut ilmu untuk mendebat orang yang bodoh atau menandingi para ulama atau untuk mencari perhatian manusia, maka Allah Subhaanahu wa Ta'alaa akan memasukkannya kedalam api neraka”. [Shahiih, HR. Tirmidzi no. 2654 dari Ka'ab bin Malik serta dishahihkan oleh syeikh Muhammad As-Subhi Hasan Hallaq]”. Juga hadits “Barangsiapa yang menuntut ilmu syar'i yang semestinya ia lakukan untuk mencari ridho Allah, namun ia tidak melakukannya melainkan hanya mencari keutungan duniawi, maka ia tidak akan mendapatkan harumnya aroma surga pada hari kiamat”.(Hasan Shahiih, HR. Ahmad, Abu Dawud) Niat dan tujuan utama dalam melakukan sesuatu sangatlah menunjang dan berpengaruh dalam perjalanan hidup seseorang. Dalam karyanya, kitab Ta'limul mutaallim, Imam az-Zarnuji menyatakan, “Ada amal perbuatan dunia (yang jika di kerjakan tidak berpahala) akan menjadi amal akherat (perbuatan berpahala), dikarenakan baiknya niat, dan ada juga amal perbuatan akherat akan menjadi perbuatan dunia dikarenakan niat yang jelek”. Begitupun dalam semua perbuatan. Contoh simpelnya adalah makan, minum, beristrirahat, dan lain sebagainya. Semua itu adalah perbuatan yang tidak berpahala, namun dengan niat yang baik dan dengan tujuan yang mulia, semisal makan dengan niat supaya bisa kuat beribadah kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa, supaya bisa mencari nafkah dengan baik atau supaya bisa bekerja dengan fit dan prima, maka dengan itu perbuatan makan tadi akan mendatangkan pahala dari Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Begitupun halnya dalam aktivitas berbisnis, bertani, berdagang, menjadi karyawan, menjadi dosen, menjadi direktur, menjadi CEO, atau menjadi apapun profesinya, semuanya kembali pada niat dan tujuan utama yang ada dalam hati kita masing???masing. Oleh karena pentingya niat dan tujuan utama dalam menuntut ilmu, di hari yang di berkahi Allah Subhaanahu wa Ta'alaa ini marilah kita mulai menata kembali semua niat dari pekerjaan, niat dari semua yang kita lakukan dan niat dari segala apapun yang menjadi kesibukan kita. Kita niatkan untuk hal yang baik, positif, dan barokah, sehingga dengan hal tersebut kita akan mendapatkan nilai plus dalam kehidupan dunia dan akhirat. Aamiin Yaa Robbal 'aalamiin. Niat dan tujuan utama adalah pondasi untuk berdirinya sebuah amal dan perbuatan. Tentukan tujuan, insya Allah jalan terbuka jelas. Dan jangan lupa perkokoh niat insya Allah nilai plus akan kita dapat.

 Wallahu ‘alamu bish-showaab