Ramadhan, Penghambaan atau Kebiasaan? Jadikan Bulan Puasa Lebih Bermakna

Share this page :

2017-05-19 10:09:16


RAMADHAN, PENGHAMBAAN ATAU KEBIASAAN? JADIKAN BULAN PUASA LEBIH BERMAKNA

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

 

Saat ini, kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban (awal Ramadhan). Dan untuk kali ini, sudah keberapa kalinya kita memasuki bulan yang penuh barokah ini? Hitung saja dengan bantuan umur Anda masing-masing! Ternyata, memang sudah banyak.

 Sudah Puasa! Sudah Takwa?

Ayat 183 surah al-Baqarah sudah menjadi menu wajib para khatib di bulan Ramadhan. Allah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada kaum sebelum kalian, agar kalian bertakwa!” (al-Baqarah: 183).

Kita akan mencoba mengaplikasikan ayat di atas pada diri kita, orang-orang yang alhamdulillah sudah berpuasa. Hal ini bertujuan sebagai bentuk evaluasi dan muhasabah. Apakah tujuan dari puasa telah tercapai? Apakah setelah menahan makan dan minum, kita sudah menjadi pribadi yang bertakwa?

Pembaca, coba sekarang, Anda menanyakan kepada diri Anda, sudah berapa Ramadhan yang sudah Anda lewati? Satu kali, dua kali, tiga kali atau lebih dari itu? Nah, dengan melewati momen Ramadhan tersebut apa yang Anda rasakan?

Apakah tujuan utama puasa telah terealisasi? Apakah Anda sudah menjadi orang yang bertakwa? Apakah setelah melewati sekian Ramadhan itu, Anda telah menjadi hamba yang peduli terhadap sesama? Apakah dan apakah?

Jawabannya ada pada diri Anda masing-masing. Jawaban itulah nilai dari puasa Anda. Berhasil atau tidaknya puasa, tergantung pada jawaban tadi.

Realita

Pada sebagian kita, begitu banyak kesempatan Ramadhan dilewati namun seolah tidak memberi arti. Bagi sebagian orang selesainya Ramadhan pertanda selesainya ibadah, berhentinya Ramadhan alamat berhentinya taat, berakhirnya Ramadhan simbol berakhirnya berbagai kebaikan. Allahulmusta’an.

Artinya, puasa tersebut belum optimal, atau bisa jadi belum berhasil. Kemungkinan lain, puasa tersebut tidak bernilai lagi tidak berpahala. Lebih buruk lagi, yang didapat hanyalah  lapar dan haus (na’udzubillah mindzalik). Kenapa ya?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu agak susah. Jelasnya, jika terjadi hal yang demikian menunjukkan kualitas puasa kita masih di bawah standar. Senyatanya, puasa kita belum seperti yang diinginkan oleh Allah. Bisa jadi, banyak kekurangan di sana-sini.

Berguru kepada Masa Lalu

Dari pengalaman masa lalu tersebut, mari berbenah. Ayo kita perbaiki Ramadhan ini, bisa jadi momen penuh barokah ini yang terakhir bagi kita. Semoga, kualitas ibadah puasa kita semakin bermakna.

Oleh karena itu, kami akan mengajak saudara pembaca untuk merenungi bimbingan dan nasihat ulama ketika menghadapi Ramadhan. Harapannya, dengan bimbingan tersebut nilai ibadah dalam puasa semakin terasa. Ramadhan tidak lagi sebatas kebiasaan, tapi lebih identik sebagai sebuah penghambaan dan pengabdian.

Bimbingan Ramadhan

1. Sambutlah dengan bahagia

Kenapa kita harus bahagia? Tentu karena berbagai keutamaan yang Allah siapkan di bulan tersebut. Perasaan bahagia dan senang terhadap sesuatu itu juga akan melahirkan semangat dan tekad. Dengan demikian, kita akan menjalani bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan.

 

2. Bertekad kuat

Setelah seseorang merasa bahagia dengan datangnya Ramadhan, hendaknya sejak awal Ramadhan, ia sudah membulatkan tekad untuk menghidupkan Ramadhan. Berasal dari tekad inilah, terlahir berbagai amal shalih. Dan untuk membangun tekad, Anda membutuhkan niat ikhlas. Dengan inilah amal seseorang akan mendapatkan balasan. Rasulullah bersabda,:“Sesungguhnya amalan-amalan itu hanya tergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan keikhlasan, ibadah puasa tidak lagi sebatas kebiasaan. Karena ikhlas, berpuasa bukan karena merasa malu atau terpaksa, ikut-ikutan. Dengan niat ikhlas pula, yang berpuasa pun akhirnya tidak sekedar mulut saja, tapi segenap anggota badan yang lain termasuk hati.

3. Berlomba dalam kebaikan

Anda yang ingin sukses di bulan Ramadhan, terapkan prinsip ini! Selalu berlomba dalam kebaikan. Setiap kali Anda melihat kawan bersedekah, ikutlah bersedekah. Bila ada kawan yang berhasil mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan, kenapa saya tidak? Dengan begitu Ramadhan dipenuhi dengan amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah (artinya),“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (al-Baqarah: 148).

4. Bertaubat dari dosa

Sebenarnya, bertaubat dari dosa itu dituntut kapan saja, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hanya saja, ketika menjelang Ramadhan, taubat itu lebih dituntut. Kenapa? Agar kebiasaan dosa itu tidak terbawa ketika di bulan Ramadhan.

Jika sebuah kebiasaan buruk tidak ditinggalkan, dengan mudah kebiasaan buruk itu akan terulang kembali. Secara tidak sadar, kebiasaan buruk itu akan merusak ibadah puasa seorang hamba. Hal ini sebagaimana sabda Nabi (artinya),“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta perbuatan bodoh maka Allah tidak butuh terhadap amalannya dari menahan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari no. 1804).

 

 

5. Amar ma’ruf nahi mungkar

Untuk menghidupkan Ramadhan prinsip ini juga tidak kalah penting. Mengingatkan keluarga, saudara, dan kawan agar terus berbuat baik dan menjauh dari maksiat.

Rasulullah sendiri membangunkan keluarganya di bulan Ramadhan, terlebih di sepuluh hari terakhir. Aisyah menuturkan,“Adalah Nabi apabila memasuki 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Bersungguh-sungguh

Bersungguh-sungguh akan menjadi sebab tercapainya tujuan. Allah berfirman (artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka Kami akan benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan-jalan Kami.” (QS. al-‘Ankabut: 69).

 

7. Bersabar

Bersungguh-sungguh belum cukup. Berapa banyak orang yang bersungguh-sungguh, ketika menemui jalan buntu, dia berhenti. Kadang ada rasa malas, kadang ada rasa bosan, sabar-lah solusinya. Sehingga butuh adanya kesabaran. Dengan kesabaran akan diraih hasil.

Jalan itu tidak mulus. Jika di lautan, pasti ada ombak menerjang. Jika di daratan, akan ada lubang dan tikungan. Jika di udara, maka ada awan tebal dan badai menghadang.

8. Tetap diatas syariat

Inilah prinsip yang paling urgen. Agar ibadah puasa diterima, Anda harus melandasinya dengan ilmu. Dengan menghadiri berbagai kajian, mendengar ceramah, membaca buku dan majalah, adalah di antara metode mencari ilmu.

Saudara, tunggu apa lagi? Ramadhan sudah di depan mata. Lakukan yang terbaik untuk Ramadhan kali ini. Bisa jadi, ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita. Wallahu a’lam....

RAMADHAN, PENGHAMBAAN ATAU KEBIASAAN? JADIKAN BULAN PUASA LEBIH BERMAKNA

Oleh: Ustadz Abu Abdillah Majdiy

 

Saat ini, kita telah berada di penghujung bulan Sya’ban (awal Ramadhan). Dan untuk kali ini, sudah keberapa kalinya kita memasuki bulan yang penuh barokah ini? Hitung saja dengan bantuan umur Anda masing-masing! Ternyata, memang sudah banyak.

 Sudah Puasa! Sudah Takwa?

Ayat 183 surah al-Baqarah sudah menjadi menu wajib para khatib di bulan Ramadhan. Allah berfirman (artinya): “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian semua berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada kaum sebelum kalian, agar kalian bertakwa!” (al-Baqarah: 183).

Kita akan mencoba mengaplikasikan ayat di atas pada diri kita, orang-orang yang alhamdulillah sudah berpuasa. Hal ini bertujuan sebagai bentuk evaluasi dan muhasabah. Apakah tujuan dari puasa telah tercapai? Apakah setelah menahan makan dan minum, kita sudah menjadi pribadi yang bertakwa?

Pembaca, coba sekarang, Anda menanyakan kepada diri Anda, sudah berapa Ramadhan yang sudah Anda lewati? Satu kali, dua kali, tiga kali atau lebih dari itu? Nah, dengan melewati momen Ramadhan tersebut apa yang Anda rasakan?

Apakah tujuan utama puasa telah terealisasi? Apakah Anda sudah menjadi orang yang bertakwa? Apakah setelah melewati sekian Ramadhan itu, Anda telah menjadi hamba yang peduli terhadap sesama? Apakah dan apakah?

Jawabannya ada pada diri Anda masing-masing. Jawaban itulah nilai dari puasa Anda. Berhasil atau tidaknya puasa, tergantung pada jawaban tadi.

Realita

Pada sebagian kita, begitu banyak kesempatan Ramadhan dilewati namun seolah tidak memberi arti. Bagi sebagian orang selesainya Ramadhan pertanda selesainya ibadah, berhentinya Ramadhan alamat berhentinya taat, berakhirnya Ramadhan simbol berakhirnya berbagai kebaikan. Allahulmusta’an.

Artinya, puasa tersebut belum optimal, atau bisa jadi belum berhasil. Kemungkinan lain, puasa tersebut tidak bernilai lagi tidak berpahala. Lebih buruk lagi, yang didapat hanyalah  lapar dan haus (na’udzubillah mindzalik). Kenapa ya?

Untuk menjawab pertanyaan ini tentu agak susah. Jelasnya, jika terjadi hal yang demikian menunjukkan kualitas puasa kita masih di bawah standar. Senyatanya, puasa kita belum seperti yang diinginkan oleh Allah. Bisa jadi, banyak kekurangan di sana-sini.

Berguru kepada Masa Lalu

Dari pengalaman masa lalu tersebut, mari berbenah. Ayo kita perbaiki Ramadhan ini, bisa jadi momen penuh barokah ini yang terakhir bagi kita. Semoga, kualitas ibadah puasa kita semakin bermakna.

Oleh karena itu, kami akan mengajak saudara pembaca untuk merenungi bimbingan dan nasihat ulama ketika menghadapi Ramadhan. Harapannya, dengan bimbingan tersebut nilai ibadah dalam puasa semakin terasa. Ramadhan tidak lagi sebatas kebiasaan, tapi lebih identik sebagai sebuah penghambaan dan pengabdian.

Bimbingan Ramadhan

1. Sambutlah dengan bahagia

Kenapa kita harus bahagia? Tentu karena berbagai keutamaan yang Allah siapkan di bulan tersebut. Perasaan bahagia dan senang terhadap sesuatu itu juga akan melahirkan semangat dan tekad. Dengan demikian, kita akan menjalani bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah dan amal kebaikan.

 

2. Bertekad kuat

Setelah seseorang merasa bahagia dengan datangnya Ramadhan, hendaknya sejak awal Ramadhan, ia sudah membulatkan tekad untuk menghidupkan Ramadhan. Berasal dari tekad inilah, terlahir berbagai amal shalih. Dan untuk membangun tekad, Anda membutuhkan niat ikhlas. Dengan inilah amal seseorang akan mendapatkan balasan. Rasulullah bersabda,:“Sesungguhnya amalan-amalan itu hanya tergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dengan keikhlasan, ibadah puasa tidak lagi sebatas kebiasaan. Karena ikhlas, berpuasa bukan karena merasa malu atau terpaksa, ikut-ikutan. Dengan niat ikhlas pula, yang berpuasa pun akhirnya tidak sekedar mulut saja, tapi segenap anggota badan yang lain termasuk hati.

3. Berlomba dalam kebaikan

Anda yang ingin sukses di bulan Ramadhan, terapkan prinsip ini! Selalu berlomba dalam kebaikan. Setiap kali Anda melihat kawan bersedekah, ikutlah bersedekah. Bila ada kawan yang berhasil mengkhatamkan al-Qur’an di bulan Ramadhan, kenapa saya tidak? Dengan begitu Ramadhan dipenuhi dengan amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah (artinya),“Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (al-Baqarah: 148).

4. Bertaubat dari dosa

Sebenarnya, bertaubat dari dosa itu dituntut kapan saja, di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Hanya saja, ketika menjelang Ramadhan, taubat itu lebih dituntut. Kenapa? Agar kebiasaan dosa itu tidak terbawa ketika di bulan Ramadhan.

Jika sebuah kebiasaan buruk tidak ditinggalkan, dengan mudah kebiasaan buruk itu akan terulang kembali. Secara tidak sadar, kebiasaan buruk itu akan merusak ibadah puasa seorang hamba. Hal ini sebagaimana sabda Nabi (artinya),“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta serta perbuatan bodoh maka Allah tidak butuh terhadap amalannya dari menahan makan dan minum.” (HR. Al-Bukhari no. 1804).

 

 

5. Amar ma’ruf nahi mungkar

Untuk menghidupkan Ramadhan prinsip ini juga tidak kalah penting. Mengingatkan keluarga, saudara, dan kawan agar terus berbuat baik dan menjauh dari maksiat.

Rasulullah sendiri membangunkan keluarganya di bulan Ramadhan, terlebih di sepuluh hari terakhir. Aisyah menuturkan,“Adalah Nabi apabila memasuki 10 hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaqun ‘alaih)

6. Bersungguh-sungguh

Bersungguh-sungguh akan menjadi sebab tercapainya tujuan. Allah berfirman (artinya), “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, maka Kami akan benar-benar memberikan petunjuk kepada jalan-jalan Kami.” (QS. al-‘Ankabut: 69).

 

7. Bersabar

Bersungguh-sungguh belum cukup. Berapa banyak orang yang bersungguh-sungguh, ketika menemui jalan buntu, dia berhenti. Kadang ada rasa malas, kadang ada rasa bosan, sabar-lah solusinya. Sehingga butuh adanya kesabaran. Dengan kesabaran akan diraih hasil.

Jalan itu tidak mulus. Jika di lautan, pasti ada ombak menerjang. Jika di daratan, akan ada lubang dan tikungan. Jika di udara, maka ada awan tebal dan badai menghadang.

8. Tetap diatas syariat

Inilah prinsip yang paling urgen. Agar ibadah puasa diterima, Anda harus melandasinya dengan ilmu. Dengan menghadiri berbagai kajian, mendengar ceramah, membaca buku dan majalah, adalah di antara metode mencari ilmu.

Saudara, tunggu apa lagi? Ramadhan sudah di depan mata. Lakukan yang terbaik untuk Ramadhan kali ini. Bisa jadi, ini adalah kesempatan terakhir yang Allah berikan kepada kita. Wallahu a’lam....

Keutamaan 10 Hari Kedua di Bulan Ramadhan "Pengampunan"

Keutamaan 10 Hari Kedua di Bulan Ramadhan "Pengampunan"

Tidak terasa 10 hari pertama bulan Ramadhan telah kita lalui,…


7 Fadhilah Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama

7 Fadhilah Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama

 

Ramadhan adalah bulan yang mulia dan dinantikan oleh setiap umat islam. Pada…


Hari ke 3 Presiden Jokowi Shalat Tarawih di Masjid Andalusia

Bogor-Setelah pada hari pertama Ramadan salat tarawih di Masjid Baitussalam Istana Kepresidenan Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan tarawih hari…