Muharram dan Tahun Hijriyah (1) - Andalusia Islamic Center

Muharram dan Tahun Hijriyah (1)

Muharram dan Tahun Hijriyah (1)

Oleh : ust. Abdul Mughni, BA, MHi

Bismillah Alhamdulillah wa sholattu wa salamu 'ala rasulillah sholallahu alayhi wa sallam

Setiap bulan Muharram biasanya diasosiasikan dengan peristiwa hijrahnya nabi Muhammad shollallahu 'alayhi wa sallam dari kota Mekkah ke kota Yastrib (Madinah), terlebih lagi tahun islam dinamakan dengan Hijriyyah yang dinisbahkan (dihubungkan) dengan peristiwa hijrahnya nabi.

Beberapa pertanyaan muncul tentang peristiwa yang dimaksud antara lain ; apakah hijrahnya nabi di bulan Muharram ? Kenapa beliau hijrah ? Bukankah beliau dilindungi Allah taa’ala? Siapakah yang menetapkan urutan bulan bulan hijriah tersebut ? Apa hikmah dan manfaat umat Islam mengetahui kalender Hijriyah ? Apakah beda Hijriyah dengan Masehi ?

Buku buku Siroh menyebutkan bahwa peristiwa hijrahnya nabi dari Mekkah Ke Yatsrib bukan di bulan Muharram, tetapi di bulan Rabiul Awwal, Ibnu Hisyam sejarawan siroh menjelaskan bahwa nabi Muhammad sholallahu 'alayhi wa sallam tiba di Madinah pada tgl 12 Rabiul Awwal tahun ke 13 dari Kenabian, pendapat ini pula yang dipilih oleh Syaikh Mubarakfuriy. Sebelum Hijrahnya nabi telah didahului dengan hijrahnya beberapa sahabat ke kota tersebut, seperti sahabat Mush’ab bin ‘Umayr, Ibn Ummi Maktum, Abu Salma bin Abd Asad dll radhiallahu ‘anhum, bahkan setelah seluruh orang Islam yang ada di kota Mekkah berhijrah, dan yang paling akhir adalah sahabat Abu Bakr dan kemudian sahabat Ali bin Abi Tholib radhiallahu anhuma . Beliau sholallahu ‘alayhi wa sallam keluar dari rumahnya pada tgl 27 bulan Shafar malam Jumat dan berada di gua Tsur sampai hari senin kemudian menuju Madinah dan tiba di Quba hari Senin tgl 8 Rabiul Awwal kemudian melanjutkan hingga tiba di kota Madinah 12 Rabiul Awwal, kurang lebih 15 hari. Jumhur (mayoritas) ulama sejarah seperti Al waqidiy, Ibnu katsir dll, menyebutkan pula bahwa tepatnya hijrah nabi pada hari senin 12 Rabiul Awwal, sama dengan hari kelahiran nabi. Beliau mencontohkan seorang pemimpin yang memastikan akan keselamatan dan keamanan pengikutnya barulah kemudian beliau hijrah keluar dari kota Mekkah, mirip dengan seorang nahkoda kapal yang bertanggung jawab, yang akan meninggalkan kapal yang karang atau terdampar setelah seluruh penumpang selamat. Allah telah menunjukkan kepada nabi keinginan kuat kaum Musyrikin dalam upaya mereka menghalangi dan menentang dakwah Islam dengan segala macam bentuk makar, padahal Allah sebaik baik Zat yang berbuat makar (8;30). Izin dari Allah kepada kekasihNya untuk berhijrah dan nabipun bertanya kepada malaikat Jibril siapa yang menemaniku, Jibril menjawab Abu Bakr. Kemudian nabi pun menuju rumah Abu Bakr untuk menginfokan dan mengatur strategi hijrah mereka, dan telah disiapkan oleh Sayyiduna Abu Bakr dua ekor unta untuk hijrah dan nabi mensyatkan mengambilnya dengan membayar harganya sekalipun sahabat Abu Bakr telah menginfakan hartanya dijalan Allah. Kedua unta tersebut bernama Jad’aa dan Qoswaa, riwayat yang masyhur nabi mengambil unta Qoswa’ dalam riwayat lain yang diambil adalah Jad’aa. Sebagai guide dan penunjuk jalan mereka menyewa Abdullah bin Uroyqith yang masih dalam keyakinan dan agama kaum Qurays, maka diserahkanlah kedua ekor unta dan akan bertemu kembali setelah 3 malam di gua Tsur. Setelah itu nabi pun kembali ke rumah menanti malam datang untuk melaksanakan sebuah perjalanan yang menjadi point of change atau momen of the truth dari seorang kekasih Allah, dan menjadi awal kebangkitan dan kejayaan serta kemenangan agama Allah. Malampun tiba dan nabi menegetahui bahwa kediamanya telah dikepung oleh pemuka dan jawara Qurays antara lain : Abu Jahl, Uqbah bin Abi Mu’ith, Umayyah bin Kholaf, Abu Lahab, Zam’ah, Thu’aymah, Nubayh bin Hajjaj dengan penuh keyakinan mereka akan berhasil menyudahi dan membunuh nabi Muhammad sholallahu alayhi wa sallam. Allah melindungi nabiNya dan keluar malam tersebut sambil membaca surat Yasin dari ayat 1 sd 9 seraya menyebarkan debu (tanah) diatas kepala mereka masing masig tanpa mereka sadari dan lihat, karena Allah membutakan mata mereka dan menghilangkan kesadaran mereka. Beliau keluar menuju rumah Abu Bakr dan menuju gua Tsur lewat jalan yang bukan biasanya digunakan sebagai bentuk dari strategi yang telah mereka sepakati. Nabipun memandang kepada kota Mekkah seraya berkata “ Demi Allah kau adalah sebaik baik bumi Allah dan tanah yang paling aku cintai, kalau bukan karena aku dikeluarkan, aku tidak akan keluar darimu “ (HR Ahmad, Ibn Majah).

Penyebab penentuan tahun hijriyah adalah saat sahabat nabi Abu Musa Al 'Asy'ariy radhiallahu 'anhu mendapatkan surat dari Amirul Mukminin Umar radhiallahu 'anhu tanpa tertulis diatasnya tahun, kemudian sahabat Umar mengumpulkan dan bermusyarah dengan sahabat lain untuk penetapan dan penentuan tahun. Sebagian mengusulkan dimulai dari lahirnya nabi atau meninggalnya beliau, ada juga yang mengusulkan dari hijrahnya nabi, dan Amirul Mukminin memutuskan dari saat hijrahnya nabi, karena peristiwa hijrahlah yang memisahkan dan membedakan antara haq dan bathil.

Hijrahnya nabi adalah episode besar dalam transformasi Islam dari sebuah ideologi menjadi sebuah peradaban yang berkemanusiaan dan mengalahkan peradaban manapun.

Penentuan awal bulan hijriyyah dengan bulan Muharram terdapat dua versi keterangan, pertama adalah Muharram ditetapkan sebagai awal bulan telah dimulai sejak dahulu, ketika orang arab mengenal haji dan aktifitas rutin mereka. Versi kedua yang menyebutkan bahwa berdasarkan musyawarah dan ijtihad sahabat Umar dan sahabat Ali radhiallahu 'anhuma, karena bulan Muharram jatuh setelah mereka selesai melaksanakan ibadah haji dan haji adalah rukun islam yang terakhir disyariatkan.