Merawat Cinta Sampai Surga

Share this page :

2017-02-23 08:42:04


MERAWAT CINTA SAIMPAI SURGA

Ustad Salim a Fillah

 

Dalam sejarah manusia, nikah adalah syariat yang diajaran oleh Allah kepada Adam dan hawa. Sehingga nikah merupakan bentuk awal penghambaan manusia kepada Allah. Pernikahan merupakan wahana  yang disediakan Allah untuk memelihara keturunan baik kualitas dan kuantitasnya, nabi memberi batas bahwa yang membenci sunnahnya (nikah) tidak akan menjadi bagian dari umatnya. Selain itu nabi juga menyebut nikah sebagai separuh agama, sebab sebagian bersar dari aturan di islam hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah berkeluarga. Pernikahan bisa menjadi terawat cintanya sampai surga jika yang menjalankan bisa menghormatinya. Hubugan antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi yang tidak terpisahkan. Dalam hadits riwayat imam Bukhori, Hawa diciptakan dari rusuk kiri Adam, hal ini sampai seorang penyair mengugah puisi indah, “kenapa rusuk kiri bukan dari tulang ubun ia dicipta karena sungguh berbahaya menjadikan wanita  hanya untuk disanjung dan dipuja, bukan juga dari tulang kaki sebab sungguh hina menjadikan ia diinjak dan diperbudak, tetapi dari rusuk kiri dekat ke jantung hati untuk dicintai dekat ke tanggan untuk dilindungi”. Jadi karena lelaki dan perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan jangan mencari lelaki yang sempurna begitupun sebaliknya, sebeb masing masing memang tidaklah sempurna, tetapi diciptakan Allah untuk berpadu dalam pernikahan agar saling menyempurnakan. Dalam konsep kesekufuan (keselevelan) para ulama memutlakkan kufu itu di dalam agama, karena kalau untuk selevel yang lain bisa dibicarakan. Agama adalah konsep memandnag hidup, cara memandang mati, cara memandang hidup sesudah mati, cara memandang pencipta hidup dan mati, dan cara memandang yang hidup dan yang mati, maka dari itu sekufu dalam agama harus menjadi prioritas ketika seseorang mempertimbangkan pasangan. Hubungan suami istri adalah hubungan jiwa. Nabi  mengatakan kalau kau ingin mencari pasangan maka carailah paangan yang memiliki agama, akan beruntung dirimu. Untuk menilai orang agamanya baik atau tidak kita bisa menlai dari beberapa hal :

Pertama. Hubunganya dengan Allah, jika dengan Allah saja dia tidak setia bgaimana ia diharapkan setia terhadap pasangan.

Kedua. Hubungananya  dengan ibunya, kalau dia tidak hormat dengan ibunya bagaimana bisa diharapkan hormat dengn istrinya.

Ketiga. Hubunganya dengan teman sebaya, kalau dengan teman sebaya suka mengingkari janji, membuka aib dan membeberkanya, kalau dengan teman sebaya tidak amanah, kita tau sendiri seperti apa orang seperti ini.

Keempat. Bagaimana hubunganya dengan anak kecil.

Pasangan yang menikah karena Allah nafsnya adalah daya hidup. Dia hendaknya menjadi nafas untk lingkunganya, dia menjadi daya hidup bagi masyarakat, dia menjadi pengerak kebaikan-kebaikan yang ada ditengah masyarakat. Pasangan syakinah ciri utamanya bukan yang tidak pernah cekcok, tetapi yang utama adalah terjaganya kesuciannya, karena godaan bisa ada dimana saja, mamun untuk orang yang sudah menikah, tempat menyelesaikanya ada di rumah. Sehingga untuk para calon istri, suami yang setia itu bukan yang tidak pernah tergoda, tapi ketika tergoda tau kemana cara menyelesaikan godaaan itu, karena tidak ada suami yang tidak pernah tergoda, jadi kalau diluar tidak tergoda maka di rumah juga tudak bisa digoda, pastinya begitu.Yang terakhir adalah warahmah, warahmah adalah cinta yang memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia, saling mencoba untuk mengerti dan memberikan pemakluman.

Dan terakhir nasihat ustad salim untuk yang belum menikah, “ menikalah”. Untuk yang akhwat katakan kepada wali dan saudara anda, tugas mereka tidak hanya menjadi juri tetapi tugas mereka menjadi panitia yang artinya tugasnya juga berburu pesarta.

 

 

 

MERAWAT CINTA SAIMPAI SURGA

Ustad Salim a Fillah

 

Dalam sejarah manusia, nikah adalah syariat yang diajaran oleh Allah kepada Adam dan hawa. Sehingga nikah merupakan bentuk awal penghambaan manusia kepada Allah. Pernikahan merupakan wahana  yang disediakan Allah untuk memelihara keturunan baik kualitas dan kuantitasnya, nabi memberi batas bahwa yang membenci sunnahnya (nikah) tidak akan menjadi bagian dari umatnya. Selain itu nabi juga menyebut nikah sebagai separuh agama, sebab sebagian bersar dari aturan di islam hanya bisa dilakukan oleh orang yang sudah berkeluarga. Pernikahan bisa menjadi terawat cintanya sampai surga jika yang menjalankan bisa menghormatinya. Hubugan antara laki-laki dan perempuan saling melengkapi yang tidak terpisahkan. Dalam hadits riwayat imam Bukhori, Hawa diciptakan dari rusuk kiri Adam, hal ini sampai seorang penyair mengugah puisi indah, “kenapa rusuk kiri bukan dari tulang ubun ia dicipta karena sungguh berbahaya menjadikan wanita  hanya untuk disanjung dan dipuja, bukan juga dari tulang kaki sebab sungguh hina menjadikan ia diinjak dan diperbudak, tetapi dari rusuk kiri dekat ke jantung hati untuk dicintai dekat ke tanggan untuk dilindungi”. Jadi karena lelaki dan perempuan adalah bagian yang tidak terpisahkan jangan mencari lelaki yang sempurna begitupun sebaliknya, sebeb masing masing memang tidaklah sempurna, tetapi diciptakan Allah untuk berpadu dalam pernikahan agar saling menyempurnakan. Dalam konsep kesekufuan (keselevelan) para ulama memutlakkan kufu itu di dalam agama, karena kalau untuk selevel yang lain bisa dibicarakan. Agama adalah konsep memandnag hidup, cara memandang mati, cara memandang hidup sesudah mati, cara memandang pencipta hidup dan mati, dan cara memandang yang hidup dan yang mati, maka dari itu sekufu dalam agama harus menjadi prioritas ketika seseorang mempertimbangkan pasangan. Hubungan suami istri adalah hubungan jiwa. Nabi  mengatakan kalau kau ingin mencari pasangan maka carailah paangan yang memiliki agama, akan beruntung dirimu. Untuk menilai orang agamanya baik atau tidak kita bisa menlai dari beberapa hal :

Pertama. Hubunganya dengan Allah, jika dengan Allah saja dia tidak setia bgaimana ia diharapkan setia terhadap pasangan.

Kedua. Hubungananya  dengan ibunya, kalau dia tidak hormat dengan ibunya bagaimana bisa diharapkan hormat dengn istrinya.

Ketiga. Hubunganya dengan teman sebaya, kalau dengan teman sebaya suka mengingkari janji, membuka aib dan membeberkanya, kalau dengan teman sebaya tidak amanah, kita tau sendiri seperti apa orang seperti ini.

Keempat. Bagaimana hubunganya dengan anak kecil.

Pasangan yang menikah karena Allah nafsnya adalah daya hidup. Dia hendaknya menjadi nafas untk lingkunganya, dia menjadi daya hidup bagi masyarakat, dia menjadi pengerak kebaikan-kebaikan yang ada ditengah masyarakat. Pasangan syakinah ciri utamanya bukan yang tidak pernah cekcok, tetapi yang utama adalah terjaganya kesuciannya, karena godaan bisa ada dimana saja, mamun untuk orang yang sudah menikah, tempat menyelesaikanya ada di rumah. Sehingga untuk para calon istri, suami yang setia itu bukan yang tidak pernah tergoda, tapi ketika tergoda tau kemana cara menyelesaikan godaaan itu, karena tidak ada suami yang tidak pernah tergoda, jadi kalau diluar tidak tergoda maka di rumah juga tudak bisa digoda, pastinya begitu.Yang terakhir adalah warahmah, warahmah adalah cinta yang memberi tak harap kembali bagai sang surya menyinari dunia, saling mencoba untuk mengerti dan memberikan pemakluman.

Dan terakhir nasihat ustad salim untuk yang belum menikah, “ menikalah”. Untuk yang akhwat katakan kepada wali dan saudara anda, tugas mereka tidak hanya menjadi juri tetapi tugas mereka menjadi panitia yang artinya tugasnya juga berburu pesarta.

 

 

 

 

riba

assallammualaikum.yg saya ingin tanyakan mengenai bank syariah dan bank konvensional gak ada bedanya ,maksudnya begini pernah saya itung itungan pinjam…


Pekerjaan untuk orangtua saya

Assalamu'alaikum Pak Ustadz.. perkenalkan saya Firli. Pak mohon maaf jika sebelumnya pertanyaan saya ini kurang berkenan dan mungkin out of…