Menghadirkan Intervensi Allah dalam Do’a (1) - Andalusia Islamic Center

Menghadirkan Intervensi Allah dalam Do’a (1)

Menghadirkan Intervensi Allah dalam Do’a (1)

Oleh : Ustad Shaifurrokhman Mahfudz, Lc, M,sh

"Pengabaian Doa dan tata caranya adalah pertanda kehancuran suatu bangsa. Masyarakat yang mengabaikan do'a kepada Allah adalah masyarakat yang berada di ambang kemunduran dan kehancuran yang vital. Roma adalah bangsa yang agung. Namun, secepat mereka meninggalkan ibadah berdo'a, secepat itu pula kehinaan dan kelemahan mereka".

Ungkapan diatas disampaikan oleh Alexis Carrel (1873-1944 M), seorang filsuf dan ilmuwan Perancis yang banyak mempelajari tipe dan karakter orang. Carrel telah mengatakan sesuatu yang indah dan puitis, tetapi juga pelik dan filosofis. Biolog dan neurolog yang bekerja pada Rockefeller Foundation ini menyadari benar pengaruh do'a terhadap tubuh dan ruh. Sekian tahun dia habiskan untuk mempelajari dan meneliti pengaruh do'a bagi pastor, politisi, advokat, buruh, petani dan pedagang. Hasil studi dan risetnya tentang do'a dikumpulkannya dalam monograf yang berjudul "Do'a" (La Priere) dan "Renungan-renunganku tentang Kunjungan ke Lourdes" (My Meditation upon the Pilgrim toLourdes).

Pentingnya Do’a Alexis Carrel sangat percaya akan pentingnya doa. Ia menyebut bahwa jika kita membiasakan berdo'a dengan tulus, hidup akan berubah secara mendasar. Do'a akan mampu menjelma kedalam perilaku dan tindakan kita. Ketenangan sikap, keteduhan wajah dan kesegaran tubuh, tampak teramati pada mereka yang kaya kehidupan batinnya. Sebagaimana Islam yang juga mengajarkan kepada umatnya untuk senantiasa memanjatkan do'a kepada Allah Swt dengan harapan agar semua keinginan, baik yang kecil maupun yangbesar dapat terkabul. Setiap muslim diajarkan untuk meyakini bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan harapan dan do'a hamba-hamba-Nya. Bahkan, Dia menjelaskan derajat kedekatan-Nya dengan semua hamba-hamba-Nya. "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya". (QS. Qaf: 16).

Seorang manusia akan merugi jika dalam ibadah dan pengabdian sebagai hamba-Nya, ia 'tidak mampu' memohon kepada Allah Swt, karena ibadah tidak akan pernah tegak tanpa doa. Maka, seorang mukmin percaya bahwa do’a adalah kekuatan besar disamping ikhtiar. Kesungguhan usaha tanpa do'a yang menghadirkan intervensi Allah akan menghasilkan kesia-siaan, meskipun secara lahiriah ia telah mencapai kesuksesan. Dalam buku Sukses Besar dengan Intervensi Allah: The Power of Do'a with Asmaul Husna: Sukses Besar dengan Intervensi Allah, Dr Muhammad Syafii Antonio, M. Ec menekankan bahwa do'a merupakan upaya seorang hamba Tuhannya mengeluhkan mengadukan permasalahan hidup yang dihadapi, memohon terkabulnya suatu harapan, serta meminta perlindungan dari segala macam marabahaya. Do’a adalah wujud ketergantungan manusia yang lemah dan hina kepada pencipta-Nya yang Maha Perkasa dan Maha Mulia Dialah Allah Swt, satu-satunya yang patut dijadikan sandaran, tempat bergantung dan kembali yang mutlak."

Do’a Laksana Pedang

Dengan tingginya kedudukan do'a dalam ibadah, Rasulullah Saw mengibaratkan do'a sebagai pedang. Dan kehebatan pedang itu sangat tergantung pada kekuatan penggunanya. Jika pedangnya tajam dan orang yang menggunakannya kuat, maka tercapailah maksud yang dituju dan tersingkirlah musuh- musuhnya. enyerupakan doa dengan pedang yang mengalahkan musuh dapat diartikan bahw orang yang berdo a memiliki senjata yang membuat hatinya lega dan tenang, seakan dengan do a itu ia sedang memerangi dan melawan apa yang mengenainya dalam bentuk musibah dan marabahaya.

 Namun demikian, dia bukan hanya menyembah dan ibadah, ia juga pancaran ruh pengabdian manusia; sebuah energi terkuat yang dapat dibangkitkan manusia. Pengaruh do'a atas tubuh dan jiwa manusia dapat ditunjukkan sebagaimana halnya pengaruh kelenjar sekresi. Hasilnya dapat diukur dalam batas-batas daya layang fisik yang meningkat, kekuatan intelektual yang membesar, stamina moral dan pemahaman mendalam tentang realitas yang mendasari hubungan kemanusiaan. Do’a juga hendaknya mempunyai intensitas kekhusyukan, sehingga do'a tidak seperti halnya untaian kalimat yang mempermainkan Tuhan; dengan memperdengarkannya pada lidah dan melupakannya di kalbu. Sementara orang menipu diri dengan mengangan-angankan dua pahala. Mereka hadir di majelis ilmu dan dzikir sambil memanjatkan doa atau melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an. Ironisnya, sebagian mereka ada yang bermimpi mendapat tiga pahala sekaligus telinga mereka m ceramah, kedua mata mereka membaca ayat-ayat Al-Qur'an dan lidah mereka menggumamkan zikir.

Mereka berpandangan bahwa intensitas sangat menentukan dalam berdo’a. Mereka berdoa dengan teriakan-teriakan yang membuat orang yang mendengarkannya menyumbat telinga mereka dari pagi sampai separuh siang layaknya binatang-binatang buas. Biasanya, cara berdoa seperti itu tidak akan mempengaruhi batin mereka sama sekali. Do’a mereka tercemar oleh bisingnya teriakan. Lidah mereka berteriak keras-keras, hingga menulikan hati dan jiwa mereka, karena mereka tidak memperhatikan hak-hak orang di sekelilingnya yang dirugikan akibat cara berdo’a yang keliru. Mereka tidak mengindahkan etika dan tatacara berdo'a. Lalu, bagaimanakah hati seseorang dapat terikat erat dengan d Jawabnya, jika pendoa mendapat pengaruh dan manfaat dari do’anya dalam segenap keadaan dan hubungan kehidupan sosialnya, baik di keluarga maupun masyarakatnya. Jika demikian, doa akan memberi pengaruh yang luas dan dalam Jiwa serta eksistensi pendo'anya akan selalu mencamkan firman Allah Swt: "Tahukah engkau akan orang yang mendustakan. agamanya? Dialah orang yang menghardik anak yatim dan tidak memperhatikan makanan orang miskin. Celaka bagi orang yang berdoa dan melalaikan donanya itu (QS. al-Ma'un; 1-6). Begitu banyak yang memandang doa sebagai ucapan rutin yang terformalkan dan seringkali diklaim sebagai ibadah paripurna yang menunjukkan tingkat kesalehan seseorang. Tidak sedikit juga diantara manusia yang menjadikan doa sekedar sebuah pelarian (escaping way) dari hal-hal keduniaan Sangat disayangkan, karena jika demikian, itu berarti merendahkan nilai do'a. Apabila do'a dipahami dalam batasan seperti itu, maka sama artinya kita melecehkan hujan dengan menggambarkannya sebagai tetesan-tetesan air yang mengisi kolam kecil di kebun.