Meneldani Jiwa Pembelajar dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam - Andalusia Islamic Center

Meneldani Jiwa Pembelajar dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Meneldani Jiwa Pembelajar dari Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam

Bismillahirrahmaanirrahiim...
Kaum Muslimiin rahimakumullah

Bagi seorang muslim menuntut ilmu adalah suatu kewajiban. Islam mengajarkan kita untuk menjadi pembelajar yang berkelanjutan. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits yang mengatakan bahwa setiap muslim itu wajib menuntut ilmu sejak dilahirkan hingga ajal menjemputnya.  Betapa pentingnya seorang muslim mempelajari suatu ilmu karena memang ilmu ibarat cahaya dalam kegelapan. Ibarat manual book, ilmu akan memberikan petunjuk bagi kita dalam menjalani hidup di dunia ini. Bahkan dalam konsep amal, ilmu menjadi unsur yang pokok, selain niat. Amalan kita akan diterima jika didasari dengan niat dan ilmu yang benar. Amal yang tidak didasari dengan niat yang benar hanya karena Allah Subhaanahu wa Ta'alaa maka akan ditolak. Begitupun jika amal tidak berlandaskan ilmu yang benar maka dikhawatirkan amalan itu tertolak karena tidak sesuai dengan tuntunan. Sehingga dalam konteks ini upaya mencari ilmu menjadi hal yang sangat penting dan urgensi mengingat setiap aktivitas kita sudah seharusnya berlandaskan ilmu yang benar agar tidak salah dalam melangkah.

Berbicara tentang menuntut ilmu ternyata tak semudah yang kita bayangkan. Namun juga tidak sesulit yang kita khawatirkan. Ada hal yang menarik yang bisa kita teladani dari sosok Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk menjadi seorang pembelajar yang baik.

Keingintahuan Besar dan Sikap Kritis Seorang Ibrahim Muda

Dilahirkan dari seorang bapak yang kafir kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa menjadi hal yang cukup berat dirasakan oleh Ibrahim muda. Semenjak kecil sang Ayah yang juga sebagai pembuat berhala tentu tidak mengenalkan sang Anak dengan Allah sebagai Tuhannya. Sang ayah mengajari bahwa Tuhan mereka adalah berhala. Ibrahim muda adalah seorang yang cerdas dan kritis menanggapi itu semua. Ibrahim tak puas dengan apa yang diajarkan ayahnya. Ketidakpuasan ditambah dengan sikap kritis itulah yang menyebabkan Ibrahim tergerak untuk mencari, mencari, dan mencari Tuhan yang memang benar itu siapa. Petualangan pencarian Tuhan pun berlangsung hingga Ibrahim mengira Tuhannya adalah bulan, matahari, dan seterusnya. Sampai akhirnya dia mendapatkan bahwa Tuhannya adalah Dzat yang menciptakan dia dan seluruh alam semesta ini. Dari sinilah kita bisa meneladani betapa besar keingintahuan dari seorang Ibrahim muda dalam memecahkan suatu tanda tanya dalam hidupnya. Dan yang juga perlu kita contoh adalah semangat pencarian dari keingintahuan beliau. Keingintahuan yang besar tak hanya berhenti pada pemikiran saja, namun juga terimplementasikan dalam aksi nyata untuk mencari jawabannya. Semoga kita sebagai generasi pembelajar bisa belajar dari Ibrahim untuk kritis dalam menyikapi sesuatu dan rasa keingintahuan yang besar pada suatu hal yang termanifestasikan dalam aksi nyata.

Sabar dalam Mempelajari Suatu Hal

Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah sosok nabi yang mempunyai kesabaran yang luar biasa. Masih ingat betul di saat Nabi Ibrahim 'alaihissalam harus  menanti untuk mendapatkan momongan, beliau harus menunggu hingga usianya sekitar 90 tahun. Penantian yang tak hanya kosong dalam stagnasi usaha. Namun, Nabi Ibrahim 'alaihissalam setiap waktu menyambut penantian itu dengan doa-doa yang terus terpanjatkan kepada-Nya, selain tentunya berusaha. Inilah arti sebuah kesabaran yang bisa kita teladani. Dalam menginginkan suatu hal kita perlu bersabar dalam mencapainya, termasuk dalam proses mencari ilmu. Dalam mencari ilmu kita perlu sabar dalam menempuh proses pembelajaran itu. Sabar dalam menghadapi segala godaan yang menghalangi dan menjadi onak duri di hadapan kita. Sabar dalam menjaga semangat pembelajar sehingga tetap istiqamah di jalan pencarian ilmu ini. Kemudian hal yang terpenting juga adalah kita harus mengisi kesabaran kita dengan doa dan usaha yang senantiasa saling beriringan.

 Kesabaran sangat penting bagi para pemburu ilmu. Al-Imam Ibnul Madini meriwayatkan bahwa Asy-Sya'bi pernah ditanya : “Dari mana kamu mendapat ilmu itu semua?” Beliau menjawab: “Dengan meniadakan penyadaran, menempuh perjalanan ke berbagai negeri, dan kesabaran seperti sabarnya benda mati, dan bergegas-gegas pagi-pagi  seperti burung gagak”. (At-Tadzkiroh, Adz Dzahabi). Menuntut ilmu bukan hal yang instant, melainkan mencari ilmu adalah proses yang panjang. Sebagai seorang muslim kita diwajibkan menuntut ilmu dari buaian hingga liang lahat. Menuntut ilmu bukan hanya dalam konteks akademik apalagi hanya sebatas mengikuti anjuran pemerintah yakni memenuhi tuntutan Wajib Belajar 12 Tahun. Menuntut ilmu bagi seorang muslim adalah sebuah proses berkelanjutan dan tiada akhir. Sehingga tentu perlu kesabaran yang luar biasa sebagai kekuatan dalam menjaga semangat berkelanjutan dalam menuntut ilmu. Dengan sabarlah ilmu kita akan bertahan dan dengan sabarlah ilmu akan didekatkan dengan pencarinya.

Ikhlas dan Taat Menjalani Perintah

Setelah sekian lama Nabi Ibrahim 'alaihissalam menunggu untuk mendapatkan keturunan, pada akhirnya beliau dianugerahi seorang anak oleh Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Tentunya, memiliki anak adalah kebanggaan para orangtua. Begitu sayangnya, para orangtua akan berupaya mati-matian menjaga keselamatan buah hatinya. Begitu pula apa yang dirasakan oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam ketika beliau sudah mempunyai dua buah hati, Nabi Ismail & Nabi Ishak 'alaihimaassalam. Namun, ujian datang menghadang di saat Nabi Ismail 'alaihissalam beranjak dewasa, Allah Subhaanahu wa Ta'alaa memerintahkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam untuk menyembelihnya. Menyembelih anak sendiri sungguh sangatlah sulit dilakukan walaupun hal tersebut berdasarkan atas perintah Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Hanya orang yang benar-benar ikhlas dan semata-mata mengharap ridha Allah Subhaanahu wa Ta'alaa yang mampu melaksanakannya. Nabi Ibrahim 'alaihissalam adalah contoh kongkretnya. Berbeda halnya dengan kita, kadang berkurban pun masih sempat-sempatnya ingin pamer ketaatan kepada manusia.

Membuktikan ketaatan kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa tak mungkin hanya setengah-setengah atau ala kadarnya. Kita harus melakukan perintah Allah Subhaanahu wa Ta'alaa secara totalitas dan kaffah dalam menjalaninya. Banyak sekali firman Allah Subhaanahu wa Ta'alaa yang menyinggung masalah pengorbanan dalam pembuktian ketaatan. Misalnya, Allah Subhaanahu wa Ta'alaa berfirman (yang artinya): “Katakanlah, 'Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kalian, istri-istri kalian, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (QS at-taubah : 24).

Ketaatan adalah salah satu modal utama bagi para pembelajar. Sebagai pembelajar yang senantiasa haus akan ilmu kita harus selalu taat dalam menjalani proses pencarian ilmu itu. Seperti halnya yang dilakukan Nabi Ibrahim 'alaihissalam saat diberikan perintah oleh Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Jangan sampai sebagai pembelajar kita justru sering bermaksiat dan berbuat khilaf. Hal ini akan menjadi penghalang terhadap ilmu-ilmu untuk sampai kepada kita.

Demikianlah contoh jiwa pembelajar yang diajarkan oleh bapak dari para nabi, Nabi Ibrahim'alaihissalam. Kritis terhadap lingkungan kita dan memiliki keingintahuan yang besar merupakan langkah awal kita dalam mencari ilmu. Selain itu, kita juga harus mencari ilmu dengan penuh kesabaran dan tak kenal lelah dengan berbagai masalah yang dihadapi. Kita juga harus senantiasa menjaga semangat berkelanjutan dalam jiwa kita. Terakhir, kita harus ikhlas dan taat dalam menjalani proses yang ada serta meniatkan dalam diri bahwa menuntut ilmu adalah ibadah dan bentuk rasa syukur kita kepada Allah Subhaanahu wa Ta'alaa. Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa diberikan kekuatan untuk tetap istiqamah dalam menapaki jalan pencarian ilmu. Aamin Yaa Robbal 'alamiin

Wallahu ‘alam bish-showab

*)Sumber : www.dakwatuna.com