Memaknai Harta - Andalusia Islamic Center

Memaknai Harta

“ Memaknai Harta”

Oleh : Ilham Mansur

Dunia ini berhiaskan harta yang menjadi ambisi bagi kebanyakanmanusia. Dan mungkin termasuk kita.Memang berat sekali godaan harta. Namun konsekuensi bagi korbannya jangan ditanya. Berbagai sejarah banyak mengabadikan kisah para budakbudak harta sebagai pelajaran buat generasi

selanjutnya, seperti Qarun Yang ditenggelamkan bersama hartanya atau lihat bagaimana kesuksesan kaum muslimin memukul mundur pasukan Quraisy pada perang uhud, namun tiba-tiba saja berubah menjadi kekalahan dikarenakan silau terhadap ghonimah (harta rampasan perang).

"Kerusakan yang ditimbulkan akibat ambisi seseorang terhadap harta dan kemuliaan tidak lebih kecil dari kerusakan seekor kambing akibat dilepasnya dua serigala yang lapar kemudian keduanya pergi menuju kambing tersebut." (HR Imam Ahmad, Nasa-i, Tirmidzi)

Zaman hedonispun datang, dimana ketika uang adalah segalanya. Bahkan dengan beraninya muncullah slogan berbunyi, ”money is the second God”. Mereka menyekutukan Allah Subhaanahu wa ta'ala dengan benda mati. Menghambakan diri pada hal yang tak abadi.

Posisi atau arti harta dalam kehidupan ini memang diyakini sangat penting. Atas dasar pemahaman seperti itu, maka harta kekayaan dicari dan bahkan dikejar-kejar hingga berlebihan. Bahkan ada saja orang berani mengorbankan harga dirinya, sekedar mendapatkan harta kekayaan. Kita lihat misalnya, para koruptor, pedagang obat-obatan terlarang, penjual diri,  dan lain-lain, mereka melakukan cara yang kotor hanya sekedar untuk mendapatkan harta yang diinginkannya itu. Padahal perbuatan tersebut memiliki resiko yang amat tinggi. Selain itu, orang berebut dan bahkan harus mengorbankan tali sillaturrahmi, mempertaruhkan harga diri, dan bahkan keselamatan dirinya, hanya sekedar menghendaki untuk mengejar dan atau mendapatkan harta kekayaan. Melalui harta, orang berharap agar mendapatkan kesenangan dan juga kebahagiaan. Padahal sebaliknya, justru dengan harta bisa jadi seseorang menemui kecelakaan dan kehinaan. Dengan harta kekayaan, seseorang memperoleh penghormatan, prestise, kedudukan tinggi, dan lainlain. Akan tetapi, kita juga sepatutnya menyadari bahwa jika hidup hanya sekedar mengejar harta semata orang bisa jatuh sengsara. Para koruptor, pengedar obat- obatan terlarang, dan kejahatan lainnya, bertahun-tahun mendekam di penjara adalah disebabkan oleh karena terlalu mencintai harta kekayaan itu. Namun pada kenyataan lainnya, tidak sedikit orang yang hidup miskin dan menderita dikarenakan mereka tidak memiliki harta kekayaan

yang mencukupi. Keberadaan harta kekayaan bagi setiap orang memang penting. Hal itu tidak bisa dipungkiri. Hanya saja, Tidak semua harta selalu mendatangkan kebahagiaan, bahkan kadangkala justru sebaliknya. Pada kenyataannya, tidak sedikit orang mendapatkan penderitaan, justru oleh karena harta kekayaannya. Oleh karena itu, harta harus diposisikan secara benar, dan begitu pula cara mendapatkannya. Seseorang boleh memiliki harta, tetapi tidak boleh terlalu mencintainya. Demikian pula, cara mendapatkannya harus dilakukan melalui cara-cara  yang benar, dan tidak boleh merugikan orang lain. Bagi orang Islam harta harus selektif, dipilih yang halal, baik, dan membawa berkah. Atas dasar pilihan seperti itu, maka harta akan memiliki makna yang tinggi bagi kehidupan ini, dan bukan justru sebaliknya, yakni mengantarkan pemiliknya  pada kenistaan dan pederitaan hidup. Seorang muslim tidak boleh mencari harta dengan cara yang tidak benar, misalnya dengan cara mencuri, korupsi, merampok, menggarong, mengurangi timbangan, melakukan kecurangan, merugikan orang lain, dan seterusnya. Harta haram dan atau riba tidak boleh dimiliki dan dikonsumsi oleh seorang muslim. Harta kekayan harus diperoleh secara halal. Selain itu, seorang muslim harus memilih harta yang baik, membawa berkah, bahkan harus disucikan dengan cara dikeluarkan zakatnya. Dalam harta seseorang muslim terdapat hak bagi orang miskin, maka selain zakat, harus dikeluarkan pula, berupa  infaq, shadaqoh, dan lain-lain. Harta bagi seorang muslim harus halalan, thoyyiban dan membawa berkah. Maka dari itu ada yang harus disetting ulang terhadap paradigma harta yang sebenarnya. Agar tidak menjadi tipu daya bagi para pemiliknya.

Harta itu titipan bukan perhiasan.  Pada harta itu terdapat amanah untuk dibelanjakan sebaik-baiknya dan disalurkan selebihnya kepada orang-orang yang seharusnya. Secara kasat mata memang ia adalah perhiasan indah yang menghiasi citra si pemilik. Namun ketika maut menjemput, apalah arti dari harta dan perhiasan. Apapun yang melekat padanya. Bangkai tetaplah bangkai dan Tulang tetaplah tulang. Semua yang kita anggap milik kita sebenarnya hanyalah pinjaman dari Allah Subhaanahu wa ta'ala

Harta itu ujian bukan pujian. Begitu banyak budak harta dengan berbagai cara, mengagumi kekayaan dan menjadikannya sebagai standar strata sosial. Padahal memuja-muja hingga mendewakan kekayaan adalah sebuah kecacatan mental. Sadarilah bahwa ada cobaan dibalik itu semua. Ada godaan di setiap sisinya. Karena harta bisa membuka peluang untuk berbuat ketaatan sekaligus berbuat kemaksiatan. Kitalah yang memilih. Mau dimanfaatkan untuk apa harta tersebut ? Allah SWT berfirman ;.

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anakanakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(Q.S.Al-Anfal : 28)

Harta itu ujian bukan pujian. Begitu banyak budak harta dengan berbagai cara, mengagumi kekayaan dan menjadikannya sebagai standar strata sosial. Padahal memuja-muja hingga mendewakan kekayaan adalah sebuah kecacatan mental. Sadarilah bahwa ada cobaan dibalik itu semua. Ada godaan di setiap sisinya. Karena harta bisa membuka peluang untuk berbuat ketaatan sekaligus berbuat kemaksiatan. Kitalah yang memilih. Mau dimanfaatkan untuk apa harta tersebut ? Allah SWT berfirman

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar”.(Q.S.Al-Anfal : 28)

Oleh karena itu, kita harus menyadari tujuan sebenarnya dalam mencari harta. Yaitu agar harta tersebut sebagai sarana ibadah. Bukankah dua diantara rukun Islam tidak akan bisa terealisasikan tanpa adanya harta, yaitu zakat dan naik haji. Dan masih banyak amalan-amalan lain yang memerlukan harta agar bisa terlaksana seperti infak, wakaf dan sedekah. Maka jadikanlah harta sebagai jembatan sarana untuk beramal sehingga kita dapat menuju tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu masuk surga dengan ridho-Nya. Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (Q.S.At-taubah : 41). Wallahu a'lam bisshowaab...