Memaafkan Orang Lain (Bag. II) - Andalusia Islamic Center

Memaafkan Orang Lain (Bag. II)

Memaafkan Orang Lain (Bag. II)

Oleh : Ust. Abdul Mughni, BA, Mhi

Bismillah wa Alhamdulillah wa Al Sholatu wa Al Salamu ‘ala rasulillah shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Memaafkan orang lain banyak sekali dimensi dan bentuknya, dalam sebuah riwayat penjelasan dari tafsir surat Al-Imron : 134, bahwa imam Maymun bin Mahran rahimahullah memiliki seorang budak yang sedang menyajikan satu mangkok sayur buat tamu-tamunya, mangkok yang berisi sayur yang dipegang sang budak terjatuh dan menimpa majikan, biasanya manusia akan marah karena peristiwa tersebut, begitu pula yang akan dilakukan oleh majikan namun sang budak mengingatkan dengan menyebutkan salah satu karakter dari surat Al-Imron : ayat 134 yaitu yang menahan emosi dan marah, maka sang majikan pun urung marah, lalu sang budak menyebutkan karakter lain dari ayat yang sama yaitu yang memaafkan manusia, sang majikanpun berkata engkau aku maafkan, dan sang budak berkata lanjutkanlah dengan karakter berikutnya (akhir ayat) yaitu Allah mencintai orang-orang muhsinin (berlaku dan bersikap baik) sang majikanpun berkata wahai budakku engkau telah aku merdekakan.

Dari menahan marah, memaafkan sampai yang paling akhir dengan dimerdekakan, berkat surat Al-Imron : ayat 134. Kisah ini disebutkan dalam kitab tafsir imam Al-Qurthubiy rahimahullah.

Sebuah hadis yang menarik yang menggambarkan ahli surga (sekalipun hadis ini dhoif menurut sebagian ulama) adalah yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa dalam sautu kesempatan nabi bersabda dihadapan para sahabatnya “ akan datang seorang lelaki dari penghuni surga, kemudian datanglah lelaki dari golongan anshor dan duduk di majelis nabi, pada keesokan harinya nabi mengatakan yang sama dan lelaki yang sama yang juga datang, sampai peristiwa tersebut tiga kali, sahabat nabi yang bernama Abdullah bin ‘Amr penasaran ingin mengetahui apa amalan lelaki yang nabi katakan ahli surga, singkatnya beliau berkunjung ke rumah lelaki tersebut dan menginap sampai 3 malam untuk mengetahui amalan yang dilakukan . Setelah 3 malam sahabat Abdullah bin ‘Amr tidak mendapati sesuatu yang istimewa dan sebelum pamit, diapun berterusterang alasan kenapa menginap dirumah lelaki tersebut, karena perkataan nabi yang mengatakan anda adalah penghuni surga, dan saya ingin mengetahui amalan atau rahasia yang kau lakukan sehingga saya bisa tiru, hanya saja saya lihat amalan anda tidak banyak (biasa aja atau standar) sang lelaki berkata “ amalanku seperti yang engkau saksikan hanya saja saya tidak pernah benci iri dan dengki kepada seorang pun (memaafkan) red. , berkata sahabat Abdullah bin ‘Amr itulah yang menghantarkan anda ke surga dan yang belum mampu kami lakukan.” (HR. Ahmad dan Nasaiy).

Tidak pernah iri dan dengki kepada siapapun adalah buah dari sikap memaafkan kepada orang lain, karena realita kehidupan sering membuat manusia emosi, marah dan benci, terlebih jika dia jauh hubunganya dengan Allah, jika dia hanya melihat kehidupan ini dari kacamata materi, kepentingan dan kemaslahatan pribadinya saja, jika selalu membandingkan dan melihat kepada yang dilapangkan dan diluaskan rezkinya oleh Allah tidak pernah melihat kepada yang diuji dengan kekurangan dll. Jika seorang manusia tidak pernah mengakui kesalahan dirinya, jika dia hanya fokus kepada dirinya dan dikuasai sifat egoisme serta sulit melupakan kesalahan orang lain maka sukar baginya untuk memaafkan kepada sesama.

Hadis nabi yang lain mencontohkan bagaimana memaafkan yang bersifat finansial atau keuangan. Disebutkan dalam sebuah riwayat hadis bahwa “seorang pebisnis yang biasa memaafkan kliennya yang tidak mampu kemudian Allah pun memaafkannya dan dimasukkan kedalam surga.” (HR. Bukhoriy dan Muslim). Memaafkan sangat dibutuhkan terlebih dalam hubungan rumah tangga antara suami dan istri, suami sering memaafkan istri begitu pula sebaliknya, bahkan modal memaafkan dalam lingkup suami istri adalah sebuah kebaikan yang akan melahirkan keharmonisan dalam mahligai keluarga, firman Allah surat Al-Baqarah  ayat 237 ; “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.”

Memaafkan adalah yang lebih mendekatkan kepada ketaqwaan. Hadis nabi yang menggambarkan bagaimana sikap seorang istri yang menjadi ahli surga, kata nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam; “Maukah aku kabarkan wanita-wanita penghuni surga? Setiap istri yang mencintai suaminya dan banyak keturunanya, yang jika dia marah atau suaminya yang marah, atau jika ia dizhalimi, kemudian sang istri berkata : inilah kedua tanganku, sungguh aku belum dapat tenang sampai kau memaafkanku.” (HR. Nasaiy dan Thobroniy). Sekali lagi memaafkan orang lain dari lingkungan yang paling dekat anggota keluarga misalnya akan dapat memudahkan kita untuk memaafkan orang lain yang bukan hubungan keluarga dan kerabat. Sebuah ayat dalam surat Taghabun (QS. 64;14) menyerukan kepada orang yang beriman agar mudah untuk memaafkan kepada keluarga, sekalipun penuh dengan ujian dan tantangan, firman Allah ; “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan masih banyak ayat ataupun hadis yang berbicara tentang kedudukan tentang memaafkan, yang disebutkan diatas hanya sebagian contoh saja. Semoga seluruh umat Islam dijadikan insan yang mudah memaafkan orang lain, karena sudah terbiasa memaafkan dari lingkup yang terdekat (keluarga) dan tentunya yang diharapkan adalah maaf dan ampunan dari Allah yang Pemaaf, disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ummul mu’minin sayyidah Aishah radhillahu ‘anha bahwa beliau bertanya kepada nabi tentang doa di malam laylatul qodr, jawab nabi ; “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah sang Pemaaf dan yang Maha Mulia, Kau suka dan cinta perbuatan maaf, karenanya maafkanlah kami.” (HR. Ahmad, Nasaiy, dan Turmuzi).

Oleh : Ust. Abdul Mughni, BA, Mhi

Bismillah wa Alhamdulillah wa Al Sholatu wa Al Salamu ‘ala rasulillah shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Memaafkan orang lain banyak sekali dimensi dan bentuknya, dalam sebuah riwayat penjelasan dari tafsir surat Al-Imron : 134, bahwa imam Maymun bin Mahran rahimahullah memiliki seorang budak yang sedang menyajikan satu mangkok sayur buat tamu-tamunya, mangkok yang berisi sayur yang dipegang sang budak terjatuh dan menimpa majikan, biasanya manusia akan marah karena peristiwa tersebut, begitu pula yang akan dilakukan oleh majikan namun sang budak mengingatkan dengan menyebutkan salah satu karakter dari surat Al-Imron : ayat 134 yaitu yang menahan emosi dan marah, maka sang majikan pun urung marah, lalu sang budak menyebutkan karakter lain dari ayat yang sama yaitu yang memaafkan manusia, sang majikanpun berkata engkau aku maafkan, dan sang budak berkata lanjutkanlah dengan karakter berikutnya (akhir ayat) yaitu Allah mencintai orang-orang muhsinin (berlaku dan bersikap baik) sang majikanpun berkata wahai budakku engkau telah aku merdekakan.

Dari menahan marah, memaafkan sampai yang paling akhir dengan dimerdekakan, berkat surat Al-Imron : ayat 134. Kisah ini disebutkan dalam kitab tafsir imam Al-Qurthubiy rahimahullah.

Sebuah hadis yang menarik yang menggambarkan ahli surga (sekalipun hadis ini dhoif menurut sebagian ulama) adalah yang diriwayatkan sahabat Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu disebutkan bahwa dalam sautu kesempatan nabi bersabda dihadapan para sahabatnya “ akan datang seorang lelaki dari penghuni surga, kemudian datanglah lelaki dari golongan anshor dan duduk di majelis nabi, pada keesokan harinya nabi mengatakan yang sama dan lelaki yang sama yang juga datang, sampai peristiwa tersebut tiga kali, sahabat nabi yang bernama Abdullah bin ‘Amr penasaran ingin mengetahui apa amalan lelaki yang nabi katakan ahli surga, singkatnya beliau berkunjung ke rumah lelaki tersebut dan menginap sampai 3 malam untuk mengetahui amalan yang dilakukan . Setelah 3 malam sahabat Abdullah bin ‘Amr tidak mendapati sesuatu yang istimewa dan sebelum pamit, diapun berterusterang alasan kenapa menginap dirumah lelaki tersebut, karena perkataan nabi yang mengatakan anda adalah penghuni surga, dan saya ingin mengetahui amalan atau rahasia yang kau lakukan sehingga saya bisa tiru, hanya saja saya lihat amalan anda tidak banyak (biasa aja atau standar) sang lelaki berkata “ amalanku seperti yang engkau saksikan hanya saja saya tidak pernah benci iri dan dengki kepada seorang pun (memaafkan) red. , berkata sahabat Abdullah bin ‘Amr itulah yang menghantarkan anda ke surga dan yang belum mampu kami lakukan.” (HR. Ahmad dan Nasaiy).

Tidak pernah iri dan dengki kepada siapapun adalah buah dari sikap memaafkan kepada orang lain, karena realita kehidupan sering membuat manusia emosi, marah dan benci, terlebih jika dia jauh hubunganya dengan Allah, jika dia hanya melihat kehidupan ini dari kacamata materi, kepentingan dan kemaslahatan pribadinya saja, jika selalu membandingkan dan melihat kepada yang dilapangkan dan diluaskan rezkinya oleh Allah tidak pernah melihat kepada yang diuji dengan kekurangan dll. Jika seorang manusia tidak pernah mengakui kesalahan dirinya, jika dia hanya fokus kepada dirinya dan dikuasai sifat egoisme serta sulit melupakan kesalahan orang lain maka sukar baginya untuk memaafkan kepada sesama.

Hadis nabi yang lain mencontohkan bagaimana memaafkan yang bersifat finansial atau keuangan. Disebutkan dalam sebuah riwayat hadis bahwa “seorang pebisnis yang biasa memaafkan kliennya yang tidak mampu kemudian Allah pun memaafkannya dan dimasukkan kedalam surga.” (HR. Bukhoriy dan Muslim). Memaafkan sangat dibutuhkan terlebih dalam hubungan rumah tangga antara suami dan istri, suami sering memaafkan istri begitu pula sebaliknya, bahkan modal memaafkan dalam lingkup suami istri adalah sebuah kebaikan yang akan melahirkan keharmonisan dalam mahligai keluarga, firman Allah surat Al-Baqarah  ayat 237 ; “Jika kamu menceraikan isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, maka bayarlah seperdua dari mahar yang telah kamu tentukan itu, kecuali jika isteri-isterimu itu memaafkan atau dimaafkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pemaafan kamu itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Melihat segala apa yang kamu kerjakan.”

Memaafkan adalah yang lebih mendekatkan kepada ketaqwaan. Hadis nabi yang menggambarkan bagaimana sikap seorang istri yang menjadi ahli surga, kata nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam; “Maukah aku kabarkan wanita-wanita penghuni surga? Setiap istri yang mencintai suaminya dan banyak keturunanya, yang jika dia marah atau suaminya yang marah, atau jika ia dizhalimi, kemudian sang istri berkata : inilah kedua tanganku, sungguh aku belum dapat tenang sampai kau memaafkanku.” (HR. Nasaiy dan Thobroniy). Sekali lagi memaafkan orang lain dari lingkungan yang paling dekat anggota keluarga misalnya akan dapat memudahkan kita untuk memaafkan orang lain yang bukan hubungan keluarga dan kerabat. Sebuah ayat dalam surat Taghabun (QS. 64;14) menyerukan kepada orang yang beriman agar mudah untuk memaafkan kepada keluarga, sekalipun penuh dengan ujian dan tantangan, firman Allah ; “Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya diantara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Dan masih banyak ayat ataupun hadis yang berbicara tentang kedudukan tentang memaafkan, yang disebutkan diatas hanya sebagian contoh saja. Semoga seluruh umat Islam dijadikan insan yang mudah memaafkan orang lain, karena sudah terbiasa memaafkan dari lingkup yang terdekat (keluarga) dan tentunya yang diharapkan adalah maaf dan ampunan dari Allah yang Pemaaf, disebutkan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh ummul mu’minin sayyidah Aishah radhillahu ‘anha bahwa beliau bertanya kepada nabi tentang doa di malam laylatul qodr, jawab nabi ; “Ya Allah sesungguhnya Engkau adalah sang Pemaaf dan yang Maha Mulia, Kau suka dan cinta perbuatan maaf, karenanya maafkanlah kami.” (HR. Ahmad, Nasaiy, dan Turmuzi).