Memaafkan Orang Lain - Andalusia Islamic Center

Memaafkan Orang Lain

Memaafkan Orang Lain
oleh : ust. Abdul Mughni, BA, Mhi

Bismillah Wa Al-Hamdu Lillah wa Al-Sholatu wa Al-Salamu ‘ala Rasulillah.

Allah menyebutkan tentang ciri-ciri orang yang bertaqwa dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran (3:134). Antara lain gemar berinfaq dalam kondisi lapang maupun sempit, yang mampu menahan marah, dan yang memaafkan orang lain.

Memaafkan adalah sebuah adab dan akhlak yang mulia, sebuah kondisi mental yang tidak mudah untuk dimiliki, sebuah prinsip yang perlu dan wajib dimiliki oleh setiap insan muslim. Memaafkan (forgiveness) dapat memberikan kekuatan. Forgiveness allows us to move on without anger or contempt or seeking revenge. ... Forgiveness lets us regain our personal power ( memaafkan membuat kita lanjut dalam kehidupan ini tanpa marah, kecewa dan dendam, memaafkan dapat mengembalikan kekuatan pribadi kita). Jika seorang manusia mampu memaafkan sesama manusia yang lain, sesungguhnya dia telah berbuat baik kepada dirinya sendiri bukan kepada orang yang dimaafkan, karena yang pertama kali merasakan manfaat dari memaafkan adalah dia yang memaafkan bukan orang yang dimaafkan. Oleh karenanya, memaafkan tidak butuh pengumuman dan pengakuan dari orang lain. Mereka yang mampu memaafkan adalah yang mampu meredam dan mengendalikan amarah serta emosi dalam dirinya, mereka yang mampu mengalahkan ego dan yang sadar bahwa kehidupan ini terlalu indah jika harus dihabiskan untuk mengeluh dan memendam kekecewaan serta kekesalan terhadap orang lain. Memaafkan telah ditunjukkan oleh nabi Yusuf ‘alayhissalam tatkala berkuasa di negeri Mesir dan berjumpa kembali dengan saudara-saudaranya yang dulu telah berbuat jahat kepadanya, Al-Qur’an surat Yusuf  (12:92). Memaafkan juga dicontohkan oleh teladan dan uswah ummat Islam, nabi Muhammad shollallahu’alayhi wa sallam saat membuka kota Mekkah pada tahun 8 Hijriyyah beliau dan para sahabatnya yang berjumlah kurang lebih 10.000 (sepuluh ribu ) orang bergerak menuju kota Mekkah sebagai bentuk respon dan bantuan dari sebuah kabilah yang diserang oleh kaum Qurays, karena setelah perjanjian Hudaybiyah maka seharusnya tidak ada lagi bentuk penyerangan kepada salah satu kelompok, namun kaum qurays melanggar perjanjian dan kesepakatan tersebut, mereka menyerang dan membunuh kabilah bani Khuzaah yang membela kelompok nabi dan para sahabatnya. Bergeraklah nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam untuk membantu dan membela kabilah bani Khuzaah tersebut. Dalam peristiwa Fathu Makkah disebutkan dalam riwayat bahwa nabi memberikan pernyataan tentang 10 orang yang darahnya dihalalkan meskipun mereka berlindung dibalik Ka’bah. Diantara mereka adalah Ikrimah bin Abi Jahl, Abdullah bin Saad, Miqyas bin Shobabah, Abdullah bin Khotol, Huwayrits bin Nuqoyz, Habbar bin Aswad, Hindun bintu ‘Utbah, Sarah Mawlatu bani Abd Mutholib, ada yang terbunuh oleh para sahabat dan ada yang masuk Islam kemudian berubah menjadi pembela dan sahabat yang setia kepada nabi seperti putra Abu Jahl yaitu ‘Ikrimah bin Abi Jahl radhillahu ‘anhu. Setelah dia berusaha kabur dari kota Mekkah menuju Jedah dan saat dia naik perahu terjadilah badai dan topan besar, kemudian berakhir dengan kesadaran diri bahwa yang terbaik adalah menerima kenyataan dan masuk Islam, beriman kepada Allah dan rasulNya. Berkata ‘Ikrimah “ demi Allah tidak ada yang menyelamatkanku di laut selain ikhlas begitu pula di daratan, ya Allah jika Engkau selamatkan aku maka aku akan mendatangi Muhammad dan beriman kepadanya dan dia (Muhammad) adalah seorang yang pemaaf.”(HR. Nasaiy). Nabi pun bersabda kepada para sahabatnya “ akan datang kepada kalian “Ikrimah beriman dan berhijrah, maka janganlah kalian mencela ayahnya (Abu Jahl) karena yang demikian hanya menyakiti yang masih hidup dan tidak sampai kepada yang telah mati.” (HR. Hakim). Riwayat lain menyebutkan bagaimana sahabat ‘Ikrimah’ begitu menyesali apa yang dahulu diperbuat terhadap Islam dan rasulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam, dengan malu dan menundukkan kepalanya dia berkata kepada nabi “ ya rasulullah mintalah ampunan Allah buatku atas segala bentuk permusuhan yang dahulu pernah dilakukan, nabi berdoa ya Allah ampunilah ‘Ikrimah atas segala permusuhanya yang dahulu pernah dilakukan.” (HR Hakim ). Sifat memaafkan dari sang nabi melahirkan jiwa ksatria yang tulus dan berani dari seorang ‘Ikrimah yang dalam kehidupan Islamnya menunjukkan bukti dari taubat dan ketulusan dalam menebus kesalahan yang dahulu dilakukan. Beliaupun meninggal syahid dalam peristiwa Ajnadiyn dalam masa khilafah sahabat Abu Bakr radhillahu ‘anhu. Memaafkan dapat meringankan beban, memaafkan tidak harus menunggu permohonan maaf, memaafkan adalah melupakan kesalahan orang lain, karena kita pun masih banyak kesalahan dan kekurangan, sehingga kita bisa fokus kepada kebaikan orang lain, memaafkan adalah memahami akan ketidak sempurnaan diri kita dan sesungguhnya kesempurnaan manusia justru terletak pada ketidak sempurnaanya. Memaafkan adalah sikap yang dapat menghantarkan seorang hamba untuk menggapai surga Allah, disebutkan dalam suatu hadis “ saat hari kiamat nanti malaikat berseru manakah mereka yang memaafkan orang lain? Marilah bertemu dengan Tuhanmu dan raihlah imbalanmu, karena hak mereka yang memaafkan orang lain Allah memasukkanya kedalam surga.” (HR. Ibnu Syahin). Kata orang bijak “memaafkan tak akan menghapuskan masa lalu yang pahit, menyembuhkan kenangan bukanlah dengan menghapus ingatan, justru memaafkan hal-hal yang tak bisa kita lupakan menciptakan cara baru untuk mengenang, kita mengubah kenangan lama kita menjadi harapan masa depan kita. ”Memaafkan adalah melepaskan masa lalu dengan kata lain tidak memberikan tempat bagi masa lalu merusak kesempatan kita untuk berbahagia di masa sekarang. Ya Allah jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang dapat memaafkan kesalahan orang lain. Semua orang bisa mengkritik, mengutuk, dan mengeluh, namun diperlukan karakter dan pengendalian diri untuk bisa memahami dan memaafkan (Dale Carnegie). Dalam sebuah hadis yang mulia disebutkan tiga hal yang dapat meninggikan derajat : “memaafkan orang yang menzhaliminya, memberi yang tidak memberi kepadanya, menyambung orang yang memutus hubungan kepadanya.” (HR. Hakim).