Kemerdekaan dalam Islam - Andalusia Islamic Center

Kemerdekaan dalam Islam

Kemerdekaan dalam Islam

oleh : ust. Abdul Mughni, BA, MHi

Bismillah walhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala rasulillah shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Agustus dalam sejarah bangsa Indonesia memiliki kedudukan tersendiri karena pada tgl 17 Agustus 1945 bangsa ini meproklamasikan kemerdekaanya. Sebuah hasil dari proses yang panjang dan melelahkan, sebuah keberanian yang telah ditunjukkan founding fathers (pendiri) bangsa ini untuk keluar dari belenggu penjajahan dan segala macam bentuk perbudakan. Manusia diciptakan Allah dalam keadaan merdeka, dalam keadaan fithroh dalam keadaan bebas dari ikatan dan kewajiban apapun kecuali yang disyariatkan Allah. Seingat penulis yang terbatas dan lemah, mungkin hanya kewajiban zakat fithrah yang harus dilakukan sekalipun dia masih usia bayi, dan kewajiban tersebut adalah tanggungan sang ayah jika dia mampu. Tidak wajib bagi sang bayi sholat, ibadah lainya apalagi ibadah haji. Barulah setelah sang jabang bayi baligh maka dia wajib menjalankan syariat Allah lainya seperti yang sudah diketahui (al ma’lum minaddin bidhoruroh) ibadah dalam rukun Islam serta menjauhi dosa dosa besar seperti zina, riba dll. Saat seorang manusia menjalankan syariat Islam sesungguhnya dia telah merdeka, karena syariat yang dilakukan bukan untuk mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari manusia, apalagi sebatas ingin mendapatkan pujian. Semua Ibadah yang dilakukan hanya dapat diterima (maqbul) disisi Allah jika dilandasi dan didasari keikhlasan. Merdeka adalah Ikhlas, yaitu hanya berharap dan memohon dari Zat yang menguasai alam dan seisinya. Merdeka adalah membebaskan diri dari belenggu dan jaring jaring hawa nafsu yang menjerumuskan manusia ke dalam lobang dan jurang kehancuran. Merdeka adalah memurnikan segala macam bentuk kebaikan hanya untuk dan semata-mata karena Allah taa’la. Jika seorang hamba dalam melakukan perbuatan baik diiringi dengan motif dan tujuan duniawi maka dia hanya mendapatkan tujuan dunia saja, sedangkan di akhirat dia kehilangan segala macam bentuk kenikmatan yang dijanjikan. Firman Allah dalam surat Hud (11) ayat 15 dan 16 “ barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya pasti Kami berikan (balasan)penuh atas pekerjaan mereka di dunia (dengan sempurna) dan mereka di dunia tidak dirugikan, itulah orang orang yang tidak memperoleh sesuatu di akhirat kecuali neraka dan sia sialah disana apa yang telah mereka usahakan di dunia dan terhapuslah apa yang telah mereka kerjakan “. Dalam tafsir At Thobariy disebutkan adalah orang yang syirik kepada Allah tetapi dia melakukan kebaikan di dunia, seperti silaturrahim, menolong dan membantu orang lain. Maka bagi mereka balasan kebaikan di dunia saja, dan di akhirat tidak mendapatkan balasan karena mereka adalah orang yang musyrik dan tidak menyembah Allah. Imam Sa’diy rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan maksud ayat ini adalah orang kafir yang berbuat kebajikan serta kebaikan kemudian membatasi motif dan maksud tujuanya adalah didunia saja, karena orang yang beriman kepada Allah pastinya lebih memilih balasan di akhirat daripada balasan di dunia, karena akhirat lebih baik dan lebih kekal.

Merdeka adalah memurnikan motif, niat dan tujuan hanya kepada Allah tidak ada keinginan dan motif dunia sedikitpun. Hadis nabi yang sangat populer yang berbicara tentang niat, begitu gamblang dan lugas dalam memberikan ilustrasi antara yang berniat karena Allah dan karena dunia. Siapa yang hijrah karena wanita atau karena dunia maka hijrahnya adalah kepada motif dan niat yang diinginkan, sebaliknya yang hijrah karena Allah dan rasulNya maka dia akan mendapatkan Allah dan rasulNya. Dunia hanya sebatas sarana yang tidak boleh dilupakan tetapi bukan tujuan. Merdeka adalah ketika seorang mampu menjadikan akhirat sebgai tujuan dengan memanfaatkan dan mengoptimalisasi sarana dan wasilah kehidupan dunia.

Firman Allah dalam surat al qoshos (28) ayat 77 “ dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan dibumi sungguh Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan “. Merdeka adalah dengan berbuat baik didunia dan menjadikannya sarana yang akan menghantarkan kepada kebaikan di akhirat, merdeka adalah dengan tidak melakukan kerusakan dibumi karena hal tersebut dibenci Allah. Ayat diatas adalah rangkaian kisah orang yang tidak merdeka yang diceritakan Al Qur’an, dialah Qorun. Seorang yang dikuasai dan dijajah oleh hartanya, sehingga dia terus dihantui rasa takut dan hanya yakin akan hartanya sebagai sumber kebahagiaan dan kebanggaan. Qorun adalah simbol dari manusia yang lupa terhadap Allah dan menjadikan dunia tujuan semata, menjadikan harta sebagai tujuan bukan sebagai sarana untuk berbuat baik, menjadikan motif serta cita cita di dunia dengan mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya dan berbangga bangga dengan harta yang dimiliki. Qorun adalah contoh manusia yang lupa berbuat baik kepada Allah, padahal merdeka adalah sikap yang ditunjukkan oleh seorang hamba bagaimana dia mampu untuk berbuat baik, sebagaimana perintah Allah dalam ayat. Merdeka dalam Islam memiliki dimensi dan makna yang dalam, jika dalam kehidupan sementara ini kita masih takut dan khawatir akan rezeki, akan faqir dan miskin, masih ragu atas janji Allah, bisa jadi kita belum sesungguhnya merdeka, kita masih dijajah dan dikuasai hawa nafsu, kita masih ditakuti syaitan dengan kefakiran ( 2;268). Momen kemerdekaan bangsa ini kita resapi dan maknai dengan bagaimana memerdekakan diri dari syahwat (nafsu) dunia dan keraguan akan janji Allah, dengan kata lain tidak takut miskin dan mati dalam hidup ini selama keimanan masih dikandung badan. Sumber kemerdekaan adalah iman yang kokoh kepada Allah disertai kepasrahan dan keikhlasan dalam beribadah kepadaNya. Ya Allah karuniakanlah kepada kami keyaqinan yang kokoh yang menjadikan kami hanya berharap dan meminta pertolongan serta ibadah hanya kepadaMu.