Kalender Hijriyyah (3) - Andalusia Islamic Center

Kalender Hijriyyah (3)

BULETIN DAKWAH ANDALUSIA EDISI 245, 09 SHAFAR 1440 H/ 19 OKTOBER 2018

Kalender Hijriyyah (3)

Oleh : ust. Abdul Mughni, BA, MHi

Bismillah wa Alhamdulillah wa Al Sholatu wa Al Salamu Ala Rasulilllah shollallahu alayhi wa sallam.

Tulisan sebelumnya adalah tentang kalender Hijriyyah sebagai identitas umat Islam juga sebagai sarana Ibadah kepada Allah serta makna dan arti bulan-bulan tersebut dalam budaya dan kehidupan bangsa Arab saat dimana mereka menyepakati nama nama bulan hijriyyah tersebut. Bulan-bulan Hijriyah yang dimaksud adalah yang berjumlah 12 yaitu : Muharram, Shofar, Rabiul Awwal, Rabiul Tasniy, Jumadal Ula, Jumadal Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawwal, Zulqo’dah dan Zulhijjah. Saat ini kita berada di bulan urutan ke 2 yaitu bulan Shofar.

Dalam sejarahnya setelah para sahabat bersepakat untuk penentuan awal tahun hijiriyyah mereka pun bermusyawarah tentang bulan apakah yang dijadikan bulan pertama dalam kalender Hijriyyah tersebut, dan disepakati bulan pertama adalah bulan Muharram karena setelah ummat Islam usai melaksanakan ibadah besar yaitu ibadah haji, sekaligus setelah bulan dimana para sahabat dari Yatsrib (kaum Anshor) berjanji setia kepada nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam untuk membela dan menolong agama Allah, peristiwa yang dikenal dengan Bay’atul Aqobah baik yang pertama diikuti kurang lebih 12 orang dan kedua yang diikuti kurang lebih 72 orang, adalah sebuah embrio dari masyarakat Islam yang berkomitmen setia kepada nabi Muhammad sholallahu ‘alayhi wa sallam. Isi Bay’at antara lain adalah “ tidak syirik, tidak zina, tidak membunuh, tidak mencuri, tidak menipu atau berbohong, tidak bermaksiat kepada nabi Muhammad, siapa yang melanggar ketentuan diatas kemudian dihukum didunia maka itu sebagai pelebur dosa (kaffarah) dan siapa yang melanggar kemudian ditutupi Allah, maka urusannya dalam kehendak Allah apakah diberikan sanksi atau dimaafkan” (HR Bukhoriy). Sungguh sebuah ketetapan waktu yang sangat pas dan tepat, saat cikal bakal masyarakat Islam dipersiapkan kemudian ditetapkan setelahnya sebagai bulan awal dari bulan-bulan Islam.

Kalender Hijriyah atau Taqwim Hijriy atau Almanak adalah pijakan dan sandaran waktu dalam beribadah kepada Allah, jika kita diciptakan Allah hanya untuk ibadah kepadaNya, maka sudah menjadi keharusan dan kewajiban bagi kita untuk mengetahui waktu dan kapan saat beribadah kepada Allah, jangan sampai kelupaan waktu untuk ibadah kepadaNya. Sebuah ungkapan dalam sebuah radio Islam swasta mengatakan “Ibadah kepada Allah haruslah everytime dan on time bahkan jika perlu over time, karena manusia dapat meninggalkan dunia ini anytime.“

Firman Allah dalam surat Al-Baqoroh ayat 189 tentang hilal, ketika ditanya oleh sahabat kenapa bulan hilal diawal kecil kemudian membesar dan mengecil kembali, para sahabat ingin mengetahui hikmahnya, kemudian Allah memerintahkan kepada nabi untuk menjelaskan bahwa perubahan hilal tersebut adalah sebagai ketentuan waktu (miqot) buat manusia untuk beribadah kepada Allah, inilah sebuah miqot global yang dijadikan Allah sebagai tanda dan waktu untuk ibadah kepada sang Pencipta dan Pengatur serta Pemilik alam raya ini. Ayat dalam surat Yunus juga menegaskan tentang ketetapan waktu yang dijadikan Allah untuk beribadah kepadaNya (Surat ke10 ; ayat 5 dan 6 ). Minimal ada 3 Ibadah besar dalam ajaran Islam yang pastinya berlandaskan taqwim Hijriyah. Pertama adalah ibadah Zakat, sebuah ibadah finansial dari harta harta yang telah ditetapkan jenisnya, jika telah memenuhi Nishob batas minimal jumlah yang dimiliki kemudian syarat berikutnya adalah yang disebut dengan Haul, yaitu sudah berlalu jangka waktu satu tahun dalam sebuah hadis disebutkan “ bahwa tidak ada kewajiban zakat dalam sebuah harta hingga telah berlalu atau lewat satu tahun“ (HR Turmuziy Ahmad Ibn Majah). Satu tahun atau hawl yang dimaksud adalah berdasarkan taqwim Hijriy bukan masehi atau miladiy. Makna hadis ini adalah jika seorang Muslim pada bulan Shofar tahun 1440 H dia telah memiliki harta yang telah melampaui Nishob, kemudian harta tersebut tidak berkurang hingga tahun berikutnya yaitu bulan Shofar 1441 H maka wajib baginya untuk mengeluarkan zakat dari harta yang dimilikinya. Masih banyak pemahaman dari umat Islam yang membatasi pengeluaran zakat hanya di bulan Ramadhan, padahal belum tentu berlalunya atau awal penentuan masa setahun dari bulan Ramadhan. Memang dalam bulan Ramadhan ada kewajiban zakat, tetapi hanya zakat fithrah yang berbeda ketentuannya dengan zakat harta. Seharusnya zakat mal yang dikeluarkan tidak harus menunggu ketika bulan Ramadhan tiba, sehingga berbondong dan ramai membayarnya di bulan tersebut, kemudian diluar bulan itu sepi dan tidak ada yang melaksanakan kewajiban zakat tersebut. Memang tidak semua harta disyaratkan berlalunya waktu satu tahun lalu wajib zakatnya. Terdapat beberapa jenis harta yang tidak perlu menunggu satu tahun untuk dibayarkan zakatnya seperti zakat pertanian atau yang keluar dari bumi, maka zakatnya adalah saat panen, saat keluar hasilnya dari bumi (surat ke 6;ayat 141), harta lain seperti barang temuan atau rikaz, begitu juga harta dari barang tambang dan harta lainnya yang tidak disyaratkan berlalunya waktu setahun sampai wajib dikeluarkan zakatnya. Ibadah lain yang bergantung pada taqwim Hijriy adalah ibadah Puasa di bulan Ramadhan, dimana bulan Ramadhan tidak ada hubunganya atau kaitan dengan kalender masehi. Bulan Ramadhan adalah urutan bulan yang ke sembilan dari bulan bulan Hijriyah. Sebuah ritual ibadah yang ketentuanya dan syarat dan rukunya memiliki karakter khusus, sebuah Ibadah yang bertujuan agar setiap individu muslim menjadi insan yang bertaqwa. Ibadah ketiga adalah ibadah Haji, sebuah ibadah yang hanya dilakukan pada bulan bulan yang telah ditetapkan Allah dan telah diketahui (surat ke 2; ayat 197). Hikmah lain yang dapat diperoleh dari ketetapan ritual besar berdasarkan taqwim hijriy adalah tidak terbatasnya pelaksanaan ibadah tersebut pada satu musim saja, dengan kata lain jika ibadah haji dan puasa tahun ini dilaksanakan pada musim panas maka di tahun tahun berikutnya berubah dimusim hujan misalnya.

 Wallohu a’alam bishowab (AM).