Hukum Memimpin bagi Wanita dalam Pandangan Syariah - Andalusia Islamic Center

Hukum Memimpin bagi Wanita dalam Pandangan Syariah

Hukum Memimpin bagi Wanita dalam Pandangan Syariah
Oleh : ust. Muhammad Isa

Memimpin merupakan sebuah amanat yang sangat berat untuk diemban, namun tidak sedikit orang menyepelekan perkara ini, padahal tanggung jawabnya kelak akan dipertanyakan oleh Allah SWT, kelak di hari pembalasan yang tidak ada naungan kecuali, Allah lah yang memiliki naungan tersebut, dan salah satu dari tujuh golongan yang akan dinaungi-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil.

Tidak terlepas sosok pemimpin yang adil, pada permasalahan ini, ternyata laki-laki memiliki derajat yang sangat tinggi untuk mengatur segalanya, baik itu dari segi tatanan ; kenegaraan, pemerintahan, apalagi sebuah institusi yang ruhnya sudah berlandaskan syari’ah. Beberapa bukti ini, telah dijelaskan Allah SWT, pada wahyu-Nya yang telah disampaikan kepada baginda Rasulullah SAW, agar disampaikan kepada ummatya bahwa, Allah SWT telah berfirman “Kaum laki-laki itu pemimpin bagi kaum wanita. Oleh karena Allah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan).” (QS. An-Nisa : 34).

 Melihat kepemimpinan wanita dalam pandangan islam pada ayat diatas, maka beberapa ulama salafus-solih berusaha menyikapi pemahaman ayat ini, seperti ; Ibnu Jarir At-Thobari dan Ibnu Abi Haitam ; memberikan pendapat terhadap maksud dari kandungan kalimat tersebut “ Ar-rijaalu qowwamuna ‘alaa nisaa “ adalah ; laki-laki adalah pemimpin bagi wanita . Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, sebagai hakim bagi wanita, dan laki-laki mesti meluruskan kaum wanita apabila wanita menyimpang dari kebenaran. Bahkan Syeikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, mengatakan ; kaum laki-laki lah yang wajib mengurus kaum wanita agar wanita tetap memperhatikan dan ta’at kepada Allah SWT. Begitu juga, Imam Syaukani dalam kitabnya Fathul Qadir, megilustrasikan, maksud “Qowwaamuuna” dalam ayat ini, adalah ; laki-laki memiliki kewajiban menjadi pemimpin bagi wanita. Dari beberapa pendapat, maka secara ijtima’ disimpulkan, bahwa laki-laki lebih berhak untuk menjadi pemimpin.

Kemudian penegasan pada ayat lain dalam firman Allah SWT ; “Akan tetapi para laki-laki (suami) mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada perempuan (istrinya). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijkasana.” (QS. Al-Baqarah : 228). Maka pada hak awlawiyyat, laki-laki memiliki satu derajat lebih tinggi dari wanita. Bahkan, dalam pembagian harta warisan juga bisa dilihat bahwa dalam firman Allah SWt ; “Allah mensyariatkan  bagimu tentang (pembagian pusaka atau harta warisan) anak-anakmu,yaitu ; bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan.” (QS. An-Nisaa : 11). Begitu juga dalam kesaksian dijelaskan ; “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhaoi, supaya jika seorang lupa maka ada seorang yang menginggatkannya.”

Sesungguhnya Allah SWT, telah menciptakan makhluk yang dinamakan manusia sebagai khalifah diatas permukaan bumi ini. Sungguh sangat mulia sekali derajat manusia sehingga Allah SWT telah menjelaskan disdalam Al-Qur’an ; “Sesungguhnya kami (Allah SWT) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sempurna.”

Berarti, ketika kalimat taqwim ini memberikan makna tegak sempurna, berarti manusia ini memiliki peranan sebagai makhluk yang memiliki kemampuan memanage sesuatu. Bahkan, manusia telah diberikan amanat untuk menjadi khalifah di muka bumi ini. Dari sudut pandang secara sederhana, ternyata manusia telah diciptakan oleh Allah SWT berpasang-pasangan laki-laki dan perempuan, sebagiamana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya : Sesungguhnya kami (Allah SWT) telah ciptakan kalian dari jenis laki-laki dan perempuan, dan kami jadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, agar saling mengenal, sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah ketaqwaan kalian.”

Ayat ini menjelaskan bahwa Allah telah menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan. Dan menjadi pertanyaan pada era abad modern ini, bagaimanakah seorang wanita dipilih menjadi pemimpin ?

Dalam kemampuan kepemimpinan ada syarat-syarat yang mesti harus dipahami oleh seluruh masyarakat, tidak terkecuali, apalagi ada sebuah institusi syariah, yang dipimpin oleh sosok wanita, maka pertanyaannya, bagaimana bisa terjadi? Marilah seorang muslim bisa melihat syarat-syarat kepemimpinan dalam islam, sebagai berikut :

1. Seorang pemimpin haruslah beriman dan beramal saleh

2. Seorang pemimpin mesti memiliki niat yang lurus. “Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Siapa yang hijrahnya karena mencari dunia atau karena wanita yang dinikahinya, maka hijrahnya kepada yang ia tuju.” (HR. Bukhari dan Muslim).

 3. Seorang pemimpin mestilah yang didahulukan untuk dipilih adalah kaum Adam , yaitu seorang laki-laki. Dalam Al-Qur’an surat An-nisa’  ayat 34 telah diterangkan diatas sebelumnya, bahwa laki-laki adalah pemimpin dari kaum wanita. “kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian dari mereka (laki-laki) atas sebagian lainya (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh adalah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia suaminya) ketika suaminya tidak ada,, oleh karena Allah telah memelihara.” Kemudian dalam Hadits, Rasulullah SAW bersabda ; “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.” (HR. Bukhori dari hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

 4. Tidak meminta jabatan Rasulullah bersabda  kepada Abdurrahman bin Samurah ra ; “Wahai Abdul Rahman bin Samurah ! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (HR. Bukhori Muslim).

5. Berpegag pada hukum Allah ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin. Allah berfirman ; “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (QS. Al-Maidah : 49).

6. Berilmu dan memutuskan perkara dengan adil. Rasulullah bersabda ; “Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerumuskan oleh kedzalimannya.” (HR. Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

Maka, pada kesimpulanya. Semua dikembalikan kepada Al-Qur’an dan As-sunnah, juga para pandangan ulama telah mengambil kesimpulan bahwa, kepemimpinan yang dikelolah oleh seorang wanita tidak akan pernah dapat dicapai kesuksesan secara syumuli. Hal ini disebabkan karena, kondisi secara lahiriyah sosok wanita memiliki perbedaan yang sangat signifikan dengan sosok pria. Wanita memiliki perasaan yang sangat halus, bahkan emosi seorang wanita tidak bisa terkontrol disebabkan ketika mendapatkan uzur tidak shalat, maka hubungan secara kedekatan hamba Allah dengan-Nya, sedikit berkurang. Semua perkara ini sudah mafhum dicerna semua hamba Allah, yang memiliki keimanan bahkan seorang yang berilmu. Namun, sangatlah disayangkan, perkara ini masih tidak diperhatikan dengan benar dan baik. Meski pada hakikatnya umat islam tidak mendiskriminasikan sosok wanita, tetapi semua itu kita kembalikan kepada apa yang sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, dan dengan terperincinya disampaikan Rasulullah SAW.

Wallahu ‘alam ...