Ekspresi Cinta untuk Sang Nabi - Andalusia Islamic Center

Ekspresi Cinta untuk Sang Nabi

Ekspresi Cinta untuk Sang Nabi
Oleh : ust. Abdul Mughni, BA, MHi

Bismillah wa Alhamdulillah wa al Sholatu wa al Salamu ‘ala rasulillah shollallahu ‘alayhi wa sallam

Iman kepada Allah dan juga iman kepada rasulullah shollallahu alayhi wa sallam merupakan sebuah kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, dengan kata lain Iman kepada Allah haruslah dengan meneladani Rasulullah shollallahu alayhi wa sallam, sebagaimana yang difahami dari QS (3;31). Iman kepada nabi Muhammad shollallahu alayhi wa sallam tidaklah sah melainkan jika iman tersebut didasari dan dibingkai dengan cinta. Sangat jelas dan tegas sebuah hadits yang menyebutkan bahwa tidaklah sempurna keimanan seorang yang beriman hingga nabi Muhammad adalah yang lebih dicintai dari apapun, yang demikian bukanlah bertujuan untuk sombong apalagi membanggakan diri dan didasari dengan egoisme, motif ungkapan tersebut adalah pelaksanaan atas perintah Allah, karena semua yang bersumber dari nabi sejatinya adalah perintah dan wahyu yang ditetapkan Allah. QS ( 53;3).

Perasaan cinta akan senantiasa terbawa dan terlihat setiap kali disebutkan segala sesuatu yang berhubungan dengan perkara dicintainya. Mirip dengan seorang yang jatuh cinta, jika disebutkan segala sesuatu yang berkenaan dengan orang yang dicintainya, maka hal tersebut akan memberikan perasaan senang, suka dan deg degan. Demikian itu adalah sebuah realitas dan kenyataan hidup yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun,baik dia orang yang beriman , orang yang kafir bahkan sekalipun jika dia adalah seorang jahat atau seorang yang atheis. Siapa yang cinta kepada sesuatu pasti dia akan rindu kepadanya, ingin bersamanya atau bergetar jika disebutkan segala sesuatu yang di yang berhubungan dengannya. Hakikat ini tidak ada yang menolaknya, karena itu adalah sesuatu yang telah digariskan Allah ( sunnah kawniyyah) bukan lagi sebagai sebuah pilihan melainkan sebuah kenyataan. Bagaimanakah jika yang dicintainya adalah rasulullah sayyiduna Muhammad shollallahu ‘alayhi wa sallam ? Bagaimanakah perasaan seorang yang beriman ketika membaca siroh nabi, atau melihat peninggalan nabi, berziarah ke makam nabi, mengunjungi lokasi yang pernah dulu disinggahi nabi, dan berada pada bulan dan hari dimana nabi dilahirkan, bulan Rabiul Awwal sudah pasti akan membangkitkan dan menggelorakan perasaan hanin (kangen dan rindu) kepada beliau shollallahu alayhi wa sallam. Tidak ada manusia berakal yang mengingkari dan menolak perasaan tersebut, saat melihat goa yang pernah disinggahi nabi, tanah dan gunung yang pernah dilalui nabi, masjid yang dulu nabi sholat didalamnya, dll. Ini semua akan membawa kepada sebuah memori dan kenangan tentang seorang yang dicintai ummatnya karena Allah dan karena dia shollallahu alayhi wa sallam juga sangat mencintai ummatnya QS (9;128).

Nabi Muhammad pun ketika datang hari senin dan beliau berpuasa sunnah, kemudian ditanya kenapa berpuasa sunnah dihari tersebut ? karena mengingat hari dahulu beliau dilahirkan.

Penyebutan Shofa dan Marwa dalam Al-Qur’an (2;158) juga difahami untuk mengingat dan mengenang sebuah peristiwa yang dialami Ummu Ismail (Hajar) saat mencari air. Maka saat ini setiap orang yang melaksanakan ibadah haji dan umroh kemudian melaksanakan ritual sa’iy tentunya akan mengenang kembali, dan membayangkan dahulu saat sulit dan sukarnya Ummu Ismail mencari air, hingga harus bolak balik dari Shafa terus ke Marwa.

Dahulu nabi bersabda “ Ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya “ (HR. Bukhoriy), jika sebuah gunung Uhud dan bisa diasumsikan sebagai simbol benda mati yang paling besar memiliki perasaan cinta kepada sang nabi, padahal nabi tidaklah diutus untuk gunung Uhud, tidaklah memberikan manfaat langsung kepada gunung tersebut, bagaimana mungkin seorang manusia yang kecil dan lemah , seorang makhluk yang dikaruniai Allah perasaan, yang nabi diutus untuk kepentingan manusia, yang banyak jasa dan pengorbanan nabi untuk keselamatan manusia, kemudian dia lupa dan lalai untuk memiliki rasa cinta kepada nabi ? Sungguh sebuah keanehan dan keabnormalan. Kenapa Nabi cinta kepada gunung Uhud, karena disitulah dahulu beliau shollallahu alayhi wa sallam dan para sahabat-sahabatnya radhiallahu ‘anhum berjuang dan berperang untuk membela agama Allah, karena disitulah ditunjukkan bukti kecintaan kepada Allah dan agamaNya yang menuntut untuk berkoban jiwa, harta dan raga. Kenapa Uhud cinta kepada nabi ? Pastinya karena kehendak Allah yang menjadikan diantara benda benda mati rasa cinta kepada nabi Muhammad sebagai bentuk kemukjizatan, sebagaimana dahan kurma yang menangis saat tidak lagi menjadi minbar nabi dll.

Marilah kita ekspresikan perasaan cinta kepada nabi Muhammad shollallahu alayhi wa sallam dengan segala bentuk yang diridhoi Allah dan rasulNya, baik lewat mengkaji sirohnya, mengkaji memahami dan mengamalkan sunnahnya dll. Tunjukkanlah cinta kepada nabi Muhammad dengan memperbanyak membaca sholawat kepadanya, dengan menghormati dan mencintai seluruh keluarga dan sahabat-sahabatnya, dengan meneladani perjalanan hidupnya dengan segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan ajaran nya atau bertentangan dengan syariah. Marilah kita berdo’a dan memanjatkan permohonan kepada Allah agar ditanamkan dalam sanubari dan hati kita, rasa cinta (hubb) kepada nabi Muhammad shollallahu alayhi wa sallam, dan jika itu benar terjadi, semoga kita termasuk kedalam kelompok yang dimaksud dalam hadis nabi “aku ingin dan kepengen untuk jumpa dengan saudara saudara kami (ikhwan)“ (HR Muslim)

bekal yang kita miliki hanyalah sedikit dari rasa cinta kepada nabi Muhammad shollallahu alayhi wa sallam, masih banyak kesalahan dan dosa yang dilakukan, hanyalah karena karunia dan semata-mata pemberian dari Allah lah yang dapat menghadirkan rasa cinta kepada nabi-Nya. Rasa cinta yang menghadirkan bayang-bayang dan memori (zikroyat) dari sebuah siroh yang wangi semerbak, dan dipenuhi mutiara-mutiara dan permata yang dapat dijadikan pelajaran. (AM)