Dua Dimensi dalam Memupuk Puasa Ramadhan Tahun Ini Agar Lebih Bertaqwa - Andalusia Islamic Center

Dua Dimensi dalam Memupuk Puasa Ramadhan Tahun Ini Agar Lebih Bertaqwa

DUA DIMENSI DALAM MEMUPUK PUASA RAMADHAN TAHUN INI AGAR LEBIH BERTAQWA
oleh : Muhammad Isa Mustafa, M.E.I
(Dosen Tetap Bidah Fiqh Mawaris, dan Kepala Bagian Tazkia Language Centre)

 

Puasa adalah salah satu ibadah, diantara ibadah yang lainnya yang memiliki keistimewaan tersendiri, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

 “Dari Abi Hurairah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda : Allah telah mengatakan, segala amalan anak Adam (langsung diberikan pahalanya sesuai dengan amalannya) kecuali puasa, maka sesungguhnya puasa itu milik Ku dan Aku-lah yang akan memberikan ganjaran terhadap puasa tersebu”. (H.R Al-Bukhari (1761), H.R. Muslim (1946).

Dalam menghadapi bulan Suci Ramadhan tahun ini, ada dua dimensi secara spiritual untuk memupuk agar puasa pada tahun ini lebih memiliki bobot ke taqwaan yang lebih maksimal dari sebelumnya. Dua dimensi ini memiliki garis vertikal dan horizontal, dimana garis vertikal memiliki korelasi terhadap hubungan antara seorang hamba dan Sang Pencipta Allah azza wa jalla, yang dikenal secara bahasa Agama yaitu, hablun mina Allah. Adapun garis horizontal memiliki garis korelasi terhadap hubungan intraksi mu’amalah antara seorang hamba Allah swt, kepada hamba yang lainnya, sebagai satu organ dalam ke imanan, sosok Mu’min, merajut ukhuwwah matinah.

Berbicara dimensi pertama; hablun mina Allah, terdapat beberapa unsur yang sangat mempengaruhi tidak hanya kehidupan di alam semesta ini, terutama di atas permukaan bumi ini, tetapi juga terutama dalam kehidupan yang abadi yaitu di akhirat. Unsur dari dimensi hablun mina Allah, antara lain, yaitu; ibadah ruhiyyah, seperti ; Sholat, Puasa, Zakat dan Shodaqoh.

Sholat merupakan tiang agama, umat Islam, karena sholat adalah perkara yang membedakan antara orang yang beriman dan yang tidak beriman, bahkan orang munafikpun dapat terdiskualifikasi karena perkara sholat yang ditinggalkannya. Sholat adalah du’a, sebagaimana Rasulullah saw bersabda :

“Dari Ibn Umar ra berkata, Rasulullah saw bersabda : Islam terbina atas lima perkara ; Bersyahadah (bersaksi) bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah Rasulullah, dan mendirikan sholat, dan menunaikan zakat, dan berhaji, dan berpuasa bulan Ramadhan”.

Maka, memasuki bulan Puasa, Ramadhan pada tahun ini, mestilah ibadah sholat ini, sudah dipersiapkan semenjak pada Bulan Rajab, sebagaimana kalangan salafus sholih para shabat, yang sangat semangat, dua bulan sebelum Ramadhan sudah giat melaksanakan sholat, baik itu melakukan sholat berjama’ah di Masjid, tidak pernah absen. Yang menjadi pertanyaan, apakah kita sudah seperti kalangan terdahulu, yang kiat dan tekun dalam ibadah sholat, terutama istiqomah dalam melaksanakan berjama’ah lima waktu.

Kemudian perkara yang lainnya adalah membiasakan puasa sunnah, karena perlu ada persiapan sebelum melakukan puasa selama satu bulan penuh, maka, apabila kita sudah terbiasa berpuasa, in sya Allah, ketika memasuki bulan Suci Ramadhan akan merasa sudah tidak lelah lagi, karena sudah terbiasa. Kebiasaan itu akan menjadi mudah dan ringan apabila dilakukan secara istiqomah.

Kemudian hal yang lain, yaitu shodaqoh, ibadah ini sangat dianjurkan, karena shodaqoh merupakan ibadah maaliyah, mengeluarkan sebagian harta untuk diberikan kepada orang yang berhak menerimanya, hal ini untuk menjadikan keberkahan dari harta yang dimiliki. Sebagaimana firman Allah saw :

“Sesungguhnya zakat-zakat, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengelola-pengelolanya, para mu’allaf, serta untuk para budak, orang-orang yang berhutang, dan pada sabilillah,  dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang telah diwajibkan Allah. Dan Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana”. (At-Taubah: 60).

 

Unsur dari hablun mina Allah, inilah yang mesti kita tingkatkan dan sebelum memasuki Ramadhan mesti ada exercise latihan-latihan sebelumnya, sehingga ketika sudah berada di Bulan Suci Ramadhan, ibadah-ibadah tersebut akan menjadi tidak berat, dan menjadi perkara yang ringan sehingga dapat secara ekstraordineri menumbuhkan hammasah semangat dalam melaksanakan ibadah spiritual dengan penuh kekhusu’an, sehingga dapat mencapai derajat taqwa yang sebenar-benarnya.

 

Kemudian, dimensi kedua yaitu, harizontal, hablun minan naas. Melaksanakan mu’amalah terhadap sesama hamba Allah. Hal ini, berkaitan dengan bagaimana kita sebagai hamba Allah swt, melakulan mu’amalah dengan baik, yaitu; yang utama adalah akhlaq, bagaimana sebagai sosok manusia bisa membenahi akhlaq nya, karena akhlak adalah perkara yang sangat penting dalam dimensi kehidupan seorang muslim.

"Tidak ada sesuatu yang diletakkan pada timbangan hari kiamat yang lebih berat daripada akhlak yang mulia, dan sesungguhnya orang yang berakhlak mulia bisa mencapai derajat orang yang berpuasa dan shalat.

Akhlak ini berkaitan bagaimana kita bisa menjaga mulut, mata dan telinga. Kita melihat Rasulullah saw bersabda bahayanya mulut  Dari Abu Ad-Darda' radiyallahu 'anhu; Rasulullah sallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

"Dari Mu’az bin Jabal radhiallahuanhu dia berkata : Saya berkata : Ya Rasulullah, beritahukan saya tentang perbuatan yang dapat memasukkan saya ke dalam surga dan menjauhkan saya dari neraka, beliau bersabda: Engkau telah bertanya tentang sesuatu yang besar, dan perkara tersebut mudah bagi mereka yang dimudahkan Allah ta’ala, : Beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya sedikitpun, menegakkan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji. Kemudian beliau (Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam) bersabda: Maukah engkau aku beritahukan tentang pintu-pintu surga ?; Puasa adalah benteng, Sodaqoh akan mematikan (menghapus) kesalahan sebagaimana air mematikan api, dan shalatnya seseorang di tengah malam (qiyamullail), kemudian beliau membacakan ayat (yang artinya) : “ Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya….”. Kemudian beliau bersabda: Maukah kalian aku beritahukan pokok dari segala perkara, tiangnya dan puncaknya ?, aku menjawab : Mau ya Nabi Allah. Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah Jihad. Kemudian beliau bersabda : Maukah kalian aku beritahukan sesuatu (yang jika kalian laksanakan) kalian dapat memiliki semua itu ?, saya berkata : Mau ya Rasulullah. Maka Rasulullah memegang lisannya lalu bersabda: Jagalah ini (dari perkataan kotor/buruk). Saya berkata: Ya Nabi Allah, apakah kita akan dihukum juga atas apa yang kita bicarakan ?, beliau bersabda: Ah kamu ini, adakah yang menyebabkan seseorang terjungkel wajahnya di neraka –atau sabda beliau : diatas hidungnya- selain buah dari yang diucapkan oleh lisan-lisan mereka .

Dari penjelasan hadits diatas ini, jelas sekali bahwa mulut merupakan perkara yang cukup berat diperhitungkannya kelak. Mulut yang baik adalah mulut yang selalu digunakan untuk berdzikir kepada Allah swt, juga bertutur kata dengan baik, tidak menyakiti hati orang lain dengan kata-kata yang tazam, sehingga dapat menyakiti perasaan orang lain. Begitu juga dengan beberapa anggota yang lain, mata dan kuping, digunakan sebaik mungkin.

 

Maka, sebelum jauh hari memasuki bulan suci Ramadhan, kita mesti melatih mulut, mata dan telingan kita, karena apabila sudah masuk bulan suci Ramadhan, akan dikhawatirkan, ada yang berpuasa tetapi puasa dia tidak berpengaruh terhadap dirinya, yang ada hanya rasa dahaga haus dan lapar saja. Karena Rasulullah pernah mengataka, celakalah bagi mereka yang berpuasa tetapi Allah swt tidak memberikan ampunan kepada hamba tersebut.

 

Sebagai kesimpulan, maka marilah kita perkuat dua deminsi diatas tadi, agar ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan pada tahun ini lebih memiliki nilai istimewa, baik untuk diri kita dan terutama dimata Allah swt.

 

Wa Allahu a’lam.....