DIKURSUS ZAKAT (Oleh: Sofyan RH. Zaid) - Andalusia Islamic Center

DIKURSUS ZAKAT (Oleh: Sofyan RH. Zaid)

"Janganlah kesejahteraan salah seorang di antara kamu meningkat, namun pada saat yang sama kesejahteraan yang lain menurun." Imam Ali RA

Secara bahasa, kata zakat berasal dari bahasa Arab "zakka" yang bermakna "berkembang", dan dalam bahasa Aramaic, zakat bermakna “pensucian” (purity). Dengan demikian zakat yang diambil dari harta orang-orang yang mampu (muzakki) akan membersihkan dan mensucikan diri mereka sendiri. Secara istilah, zakat adalah harta yang "dikeluarkan oleh muzakki untuk "disalurkan” kepada mereka yang berhak menerima zakat (mustahik). Disebut zakat karena ada harapan mendapat keberkahan atau menumbuhkan kebaikan.

Menurut Didin Hafiduddin terbitnya buku Fiqh al-Zakat karya Yusuf Al-Qaradhawi -yang diterjemahkan ke dalam baha Indonesia oleh Salman Harun, dkk pada tahun 1988- berperan penting dalam perkembangan zakat di tanah air setelah tahun 1990an. Buku tersebut memuat penjelasan zakat secara komprehensif salah satunya tentang obyek zakat yang mencakup semua harta maupun penghasilan setiap muslim di seluruh bidang profesi v halal. Ketika sudah mencapai nishab, maka wajib zakat dikeluarkan termasuk penghasilan yang didapatkan melalui keahlian tertent secara individu maupun kolektif atau yang sering disebut dengan zakat profesi (mihnah). Sebagai contoh seperti dokter, pengaca arsitek, tenaga pengajar, penjahit, seniman, dan lain-lain. Se zakat profesi, juga termasuk laba perusahaan yang dikelola ole seorang muslim atau secara berjamaah.

Qardhawi menempatkan zakat pada posisi yang penting dan strategis, khususnya dalam pemberdayaan umat pengentasan kemiskinan. Wajar jika dalam Hukum Zakat, Qardawi mencatat pernyataan seorang ilmuwan: "Pada bangsa apapun peneliti mengarahkan perhatiannya, ia selalu menemukan dua golongan manusia yang tidak ada ketiganya, vaitu berkecukupan dan melarat. Di balik itu selalu didapatkan keadaan yang menarik, yaitu yang berkecukupan selalu semakin makmur tanpa batas, sedangkan yang melarat semakin kurus, bahkan hampir tercampak di atas tanah, dan terhempas tidak berdaya."

Dalam kajian zakat, ada beberapa hal yang perlu kita kaji ulang sebagai penyengaran, antara lain:

Pertama, zakat itu "dikeluarkan" bukan "diberikan”. Hal ini penting untuk diingat, bahwa mereka yang berhak menerima zakat bukan "meminta", namun memang pada sebagian harta muzakki tersebut sudah ada hak mustahik yang harus dikeluarkan:

"Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapatkan bagian." (QS. Adz-Dzariyat: 19)

Kita sering salah paham mengenai zakat dalam prosesnya, seakan-akan mustahik itu sama dengan pengemis, padahal jelas berbeda. Itu artinya Islam meletakkan mustahik lebih tinggi derajatnya dari pengemis. Jadi, apabila seorang muzakki tidak mengeluarkan hak mustahik tersebut, dia bukan hanya berdosa kepada Allah SWT, tapi juga berdosa kepada manusia karena telah melakukan kejahatan karena menahan hak orang lain.

Kedua, banyak orang tidak mengeluar zakat karena berpikir hartanya akan berkura ini tentu sesuatu yang ironis karen harta yang dikeluarkan untuk zakat - termasuk hartanya melainkan su harta orang lain sebagai haknya. Selain itu, za pada hakikatnya sama sekali tidak mene harta yang kita miliki, bahkan akan menambah:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shalih, mendirik shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati." (QS. Al-Baqarah:277)

"Harta yang dizakati tidak akan susut (berkurang).” (HR. Muslim)

"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim:7)

Mengeluarkan zakat termasuk salah satu cara menyukuri nikmat Allah SWT. Dengan bersyukur, maka Allah akan pasti akan menambah nikmat-Nya.

Ketiga, perintah zakat selalu bersamaan dengan perintah shalat dalam al-Qur'an.

Hal ini kian menguatkan bahwa pilar utama muamalah adalah zakat, dan pilar utama ibadah adalah shalat. Kurang lebih 30 kali penyebutan kata zakat secara ma'rifah dalam als Quran dan seringkali beriringan dengan perintah shalat, antara lain:

"Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah beserta orang-orang yang ruku'." (QS. Al-Baqarah:3)

"...ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat..." (QS. Al-Baqarah:83)

"Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat..." (QS. Al-Baqarah:110)

"...dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat..." (QS. An-Nisaa': 162)

Hal ini menunjukkan begitu pentingnya zakat, bahkan Abdullah bin Mas'ud mengatakan bahwa barang siapa yang tidak mengeluarkan zakat tidak akan ada arti shalat baginya.

Demikianlah tiga hal penting perihal zakat yang perlu kita sadari kembali agar zakat tidak hanya sebagai salah rukun Islam yang wajib kita ketahui. Zakat merupakan bukti nyata keimanan kita dan tanda cinta paling romantis antara sesama muslim. Bekasi, 15 Februari 2017

*adalah penyair dan editor di Tazkia Publishing. (sofyanrhzaid@gmail.com)