Berturut-turut kita akan bersua dengan 2 (dua) jenis tahun baru, yaitu Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431H, 1 Oktober 2016 M

Share this page :

2016-12-06 09:30:25


Berturut-turut kita akan bersua dengan 2 (dua) jenis tahun baru, yaitu Tahun Baru Islam 1 Muharram 1431H, 1 Oktober 2016 M

Sebagaimana konvensi tahun baru, kita berlomba-lomba membuat janji/resolusi untuk perbaikan atau peningkatan diri. Hal ini dilakukan dengan dalih sesuai pesan agama agar hari ini harus lebih baik daripada kemarin dan esok harus lebih baik daripada hari ini. 

Seperti pepatah “Bisa Karena Biasa”, kita pun menjadi sangat ahli dalam menyusun rencana kerja.

Berbagai resolusi kita buat demi menyongsong datangnya tahun baru, fajar baru, harapan baru de-el-el yang baru-baru. 

Namun, keahlian kita dalam membuat program kerja terkalahkan oleh keahlian kita yang lain, yaitu keahlian dalam menunda pelaksanaannya serta keahlian dalam membuat beribu alasan sebagai pembenaran kita tidak mengerjakan program/resolusi kita. 

Entah sudah berapa banyak resolusi yang kita buat di tahun-tahun sebelumnya. Entah sudah berapa resolusi yang kita laksanakan sesuai agenda. Entah sudah berapa banyak pula penundaan yang kita lakukan dengan berbagai argumentasi. Apakah resolusi dan semacamnya hanya sebuah seremonial belaka? 

Haruskah tahun ini kita membuat resolusi baru? Haruskah tahun ini kita muhasabah lagi? Apakah poin-poin muhasabah tahun lalu sudah terlaksana? Apakah muhasabah tahun lalu sudah berbuah? 
Bila melihat hasil muhasabah tahun-tahun yang telah lewat, bisa jadi kita belum melihat buahnya, bahkan kembang pun mungkin belum mekar. 

Namun demikian, menjelang tahun baru ini muhasabah tetap harus dilakukan dengan memperbaiki lagi cara kita, agar ke depan kita bisa melaksanakan sebagian besar resolusi yang kita buat, bahkan jika bisa seluruhnya, amin. 

Kita memang diperintahkan untuk Muhâsabah (audit, evaluasi atau introspeksi) diri. Allah SWT berfirman yang terjemahnya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)”. (QS al-Hasyr [59] : 18) 


Ini adalah isyarat agar kita melakukan muhasabah terhadap amal perbuatan yang telah kita lakukan. Umar bin Khaththab ra. menasihatkan,

حَاسِـبُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَـبُوْا

“Hitunglah dirimu (amal perbuatanmu), sebelum engkau di hitung (kelak di akhirat)!” 

Diriwayatkan bahwa Maimun bin Mahran berkata, “Seorang hamba tidak termasuk golongan orang-orang yang bertakwa hingga ia menghisab dirinya lebih keras ketimbang penghisabannya terhadap mitra usahanya; sedangkan dua orang yang bersekutu dalam suatu usaha saling menghisab setelah bekerja.” 

“Seorang mukmin bertanggung jawab terhadap dirinya. Ia harus menghisab dirinya karena Allah. Sesungguhnya proses hisab di akhirat menjadi ringan bagi orang-orang yang telah menghisab diri mereka di dunia, dan sebaliknya—menjadi berat bagi orang-orang yang mengambil perkara ini tanpa muhasabah,” pesan al-Hasan. 

Di akhirat kelak, kita akan ditanya dengan serentetan pertanyaan yang diajukan oleh Allah dan kita menjawabnya sendirian, tak seorang pun bisa mewakili. Di hadapan pertanyaan-pertanyaan itu, setiap manusia dibuat lemah, fakir dan hina.

كَفٰى بِنَفْسِكَ ٱلْيَوْمَ عَلَيْكَ حَسِـيْبًا

“Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (QS al-Isrâ’ [17] : 14) 

Berkaitan dengan muhasabah, Al-Ghazali menasihatkan agar setiap hari kita meluangkan waktu sesaat—misalnya selesai shalat Subuh—untuk menetapkan syarat-syarat terhadap jiwa (musyârathah). Pada kondisi itu, katakanlah kepada jiwa, 
“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat. 

Seandainya aku diwafatkan oleh-Nya, niscaya aku berharap untuk dikembalikan ke dunia satu hari saja sehingga aku bisa beramal shaleh. Anggaplah wahai jiwa, bahwa engkau telah wafat, kemudian engkau dikembalikan ke dunia lagi, maka jangan sampai engkau menyia-yiakan hari ini karena setiap nafas merupakan mutiara yang sangat berharga. 

Ketahuilah wahai jiwa bahwa sehari-semalam adalah dua puluh empat jam, maka bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi lemarimu. Jangan kau biarkan dia kosong tanpa barang-barang simpanan. Janganlah engkau cenderung kepada kemalasan, kelesuan dan kesantaian sehingga engkau tidak dapat meraih derajat tinggi (‘illiyyîn) yang dapat diraih orang lain, lalu engkau penuh sesal.” 
Sebelum terlambat, marilah kita bersama-sama melakukan introspeksi dan perhitungan terhadap diri sendiri. Dengannya, kita bermohon kepada Allah agar di akhirat kelak, kita dimudahkan dalam segala perhitungan yang dilakukan atas diri kita, amin.

Keutamaan 10 Hari Kedua di Bulan Ramadhan "Pengampunan"

Keutamaan 10 Hari Kedua di Bulan Ramadhan "Pengampunan"

Tidak terasa 10 hari pertama bulan Ramadhan telah kita lalui,…


7 Fadhilah Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama

7 Fadhilah Puasa Ramadhan 10 Hari Pertama

 

Ramadhan adalah bulan yang mulia dan dinantikan oleh setiap umat islam. Pada…


Hari ke 3 Presiden Jokowi Shalat Tarawih di Masjid Andalusia

Bogor-Setelah pada hari pertama Ramadan salat tarawih di Masjid Baitussalam Istana Kepresidenan Bogor, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melaksanakan tarawih hari…