Anugerah di Balik Musibah - Andalusia Islamic Center

Anugerah di Balik Musibah

Anugerah di Balik Musibah

Oleh : Dr. Abdurrahman Misno, BP,MEI

Perputaran masa telah membawa pada beragam nuansa dan cita rasa dunia, ada suka menghampiri kita, seringkali duka bersemayam di jiwa. Semuanya adalah bala' bagi umat manusia. Allah ta'ala berfirmaran :

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk : 2).

 Adanya siang dan malam, kehidupan dan kematian, suka maupun duka adalah anugerah untuk menentukan siapa di antara kita yang paling baik amalnya dan siapa yang paling mulia di sisi Allah ta'ala : “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian disisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kalian.” (QS. Al-Hujurat : 13).

Kemuliaan manusia akan kepada kebahagiaan tiada tara di akhirat sana, Takwa adalah bekal menuju keharibaan-Nya, bahkan ia menjadi sebaik-baik bekal bagi perjalanan untuk mengharap berjumpa dengan-Nya. Kemudian, bagaimana jalan takwa? Apakah dengan menjauhi larangannya dan melaksanakan perintahNya? Ya Itu adalah jalan utamanya. Selain itu ada jalan yang jarang sekali manusia melewatinya. Ia adalah jalan "percaya terhadap qadha dan qadarNya.

Berbagai musibah yang menimpa Indonesia akhir-akhir ini telah menjadi perbincangan di berbagai tempat, apakah ini cohaan,ujian ataukah adzab? Bagaimana sikap seorang muslim terhadap hal ini? Musibah adalah salah salu dari karunia Allah ta'ala, ia menjadi salah satu sarana untuk mengangkat derajat umat manusia, Allah ta’ala berfiman :

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah:155).

 

Rasa ketakutan, kemiskinan dan berbagai musibah lainnya adalah satu di antara karunia yang diberikan kepada manusia. Maka ketika musibah melanda setiap muslim diperintahkan untuk mengucapkan kalimat takwa, sebagaimana firmanNya :

....(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS. Al-Baqarah : 156).

Inilah sikap seorang muslim, ia akan senantiasa bersyukur dan menyerahkan seluruh urusannya kepada Allah ta'ala. Berbeda dengan orang-orang yang ingkar mereka cenderung mengeluh dan mengumpat jika suatu bencana melanda: Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. (QS. Rum : 36).

Padahal musibah yang melanda adalah salah satu sarana untuk meningkatkan derajat manusia, dengan adanya musibah maka Allah ta'ala akan menghapuskan dosa-dosanya. Kalau demikian kenapa kita harus khawatir dengan musibah dan bencana yang melanda kita, padahal Allah ta'ala berfirman :

Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. QS Ath-Thaghabun 11.

Setiap bencana yang melanda adalah telah menjadi takdirNya, bukan hanya karena ulah manusia. Di sinilah fugsi "percaya" dengan qadha dan qadarNya. Adanya gunung yang meletus, gempa bumi, tsunami dan bencana alam lainnya adalah murni sebagai musibah, tidak ada campur tangan manusia padanya. Maka dari sinilah kita menempatkan musibah sebagai anugerah, anugerah yang akan mengantarkan kita kepada derajat yang lebih tinggi. Inilah ciri dari umat muslim Rasulullah bersabda :

Sangat menakjubkan perkara seorang muslim, karena semuanya merupakan kebaikan. (kebahagiaan) apabila dia mendapat nikmat dia bersyukur dan itu terbaik baginya dan jika ditimpa musibah dia bersabar dan itu yang terbaik baginya, dan tidaklah perkara ini berkumpul kecuali pada diri seorang muslim. HR. Al-Baghawi.

Jika ada yang bertanya "Bagaimana mungkin musibah semisal kematian itu disebut sebagai karunia?" Akhi Fillah, bahkan hingga kematian adalah sebuah anugerah dan sesuatu yang harus kita imani. Marilah kita perhatikan firman Allah ta'ala :

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya.” (QS. Ali Imran145).

Kematian adalah sesuatu yang telah tertulis, ia akan datang dan pasti adanya :

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (QS. Qaf : 19).

Kematian adalah sebuah kepastian, musibah juga adalah anugerah semua itu hanya menguji sejauh mana keimanan kita. Iman itu akan bertambah dengan adanya ketaatan dan di anatra bentuk ketaatan itu adalah menerima dengan semua yang menimpa kita baik itu sesuatu yang menyenangkan kita ataupun yang menyusahkan kita.

Rasulullah senantiasa bertahmid ketika sesuatu yang tidak menyenangkan menimpa beliau : (Alhamdulillahilladzi ‘ala kulli hal).

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang menimpa kita adalah takdirNya, di mana setiap takdir yang Allah ciptakan bagi hambaNya adalah sebuah kebaikan. Bisa jadi kita akan menganggap suatu musibah adalah bencana padahal itu adalah skenario ta'ala dalam meningkatkan derajat seorang hamba. Bisa juga ia menjadi penghapus dosa-dosa manusia agar kembali kepadaNya dalam keadaan mulia.

Musibah juga menjadi fitnah sekaligus barometer keimanan kita, apakah kita agar legawa ketika musibah melanda? Atau berkeluh kesah dalam nestapa? Mudah-mudahan Allah ta'ala menjadikan kita semua dan kaum muslimin pada umumnya termasuk orang-orang yang ridha dengan takdirNya. Ikhlas dalam menerima gadhaNya dan sabar serta bersyukur dengan setiap bala yang melanda.

Wallahu a’alam bisshowab....