Adzan, Seruan yang Membangkitkan - Andalusia Islamic Center

Adzan, Seruan yang Membangkitkan

Adzan, Seruan yang Membangkitkan

Oleh : Ust. Aim Muhaimin

Surat Al-Jumu’ah ayat 9: “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Surat al-Maidah ayat 58 : “dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal.” Adzan yang dikumandangkan yang berfungsi sebagai pertanda masuknya waktu shalat bagi umat Islam bukanlah suatu hal yang baru. Tidak baru dirumuskan ketika kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 M, tidak pula ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Nusantara yang sedikit lebih dulu dari tahun kemerdekaan. Akan tetapi, hal tersebut sudah ada dan menjadi bagian dari Islam sejak tahun pertama Hijriyah. Di dalam Islam, adzan merupakan syiar yang agung. Mendapatkan keutamaan besar bagi yang mengumandangkannya dan pahala bagi yang menyegerakan penyambutannya. Bagi yang menjawab setiap kalimat adzan yang dikumandangkan muadzin juga akan menjadi sebab penghapusan dosa orang tersebut. Sebuah fakta yang Allah tampakkan agar manusia merenungi, bahwa kumandang adzan senantiasa bertalu berkesinambungan tanpa jeda dari seluruh jagat raya. Di belahan bumi dari satu bagian memang mungkin tak lagi terdengar kumandangnya, sebab belum tiba waktu shalat di sana. Tapi percaya atau tidak, kalau di belahan bumi dari bagian yang lain tetap ada yang mengumandangkannya. Hal ini berlaku hingga berakhirnya umur dunia. Keagungan syiar adzan di dalam Islam adalah sebuah realitas yang tidak bisa begitu saja digugat. Allah sudah mengukuhkannya melalui kebenaran-kebanaran yang dibawa oleh utusan-Nya. Dan sebagian lagi Dia tampakkan dengan kekuatan magic yang hanya dapat dirasakan oleh mereka yang dikarunia rahmat di dalam hatinya. Baik orang itu muslim atau non-muslim. Namun di zaman ini, keironisan terjadi. Zaman di mana orang-orangnya tidak peka lagi terhadap sesuatu yang sudah diagungkan selama berabad-abad. Mereka yang membenci, menjadikan adzan sebagai sarana untuk merusak dan memicu pertikaian. Sedangkan yang selama ini meyakini bahwa adzan merupakan syiar dan simbol agamanya sama sekali tidak bergeming dengan gugatan yang ada. Tidakkah mereka merasa terpanggil dengan adzan tersebut? Bukan hanya sebagai panggilan agar manusia berkumpul untuk kemudian melaksanakan shalat berjamaah, tapi lebih dari itu. Sungguh mengagumkan apabila orang Islam merasa terpanggil atau menjadikan adzan sebagai panggilan agar mereka berkumpul untuk kemudian bersatu dalam melawan gugatan terhadap adzan itu sendiri. Menciptakan kesadaran pada diri masingmasing dengan analogi seorang pemilik rumah akan marah pada orang yang masuk ke rumahnya kemudian mengobrak-abrik apa saja yang ada di dalamnya. Maka, tidak berlebihan bila Wakil Sekjen Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Tengku Zulkarnaen berani mengangkat suara dengan kalimat, “Kalau adzan dilarang kita lebih baik bacok-bacokan saja, perang. Saya (yang) memimpin perangnya, kalau dilarang adzan pakai pengeras suara itu.” Setidaknya, beliau sudah memberi contoh dan mengajarkan kepada umat Islam untuk bagaimana seharusnya mereka menyikapi perihal adzan yang digugat di daerah Tanjung Balai, Sumatera Utara. Sebuah cermin kecemburuan dari seorang hamba bila mana Allah, rasul dan agama-Nya dijadikan bahan permainan. Juga cermin rasa takut bila besok, di akhirat kelak, mereka dihujat oleh Rabb-nya atas kepedulian mereka pada Islam dan apa berkaitan dengannya, sangat-sangat kecil. Memulai kepedulian dari diri kita adalah kemuliaan. Menghadirkan sifat tegas adalah hardikan, bagi mereka yang mengira bahwa Islam adalah agama yang lembek dan tidak memiliki kekuatan ketika direndahkan. Mengambil peran untuk kemuliaannya adalah keniscayaan. Sebab, apa pun peran yang dikontribusikan oleh kaum muslimin tidak akan ada yang sia-sia. Bila memang tidak terlihat di mata manusia, ketahuilah, tidak ada peran kebaikan kaum muslimin yang luput dari pengetahuan Allah Azza wa jalla. Wallahu a’lam.